MEDIAAKU.COM – Yeondeunghoe, atau Festival Lampion Teratai, adalah salah satu tradisi budaya dan keagamaan paling indah di Korea Selatan.Festival ini berasal dari ajaran Buddha dan biasanya diadakan untuk memperingati hari kelahiran Siddharta Gautama, sang Buddha.
Dalam bahasa Korea, yeondeung berarti “lampu menyala,” dan hoe berarti “pertemuan.” Jadi, Yeondeunghoe dapat diartikan sebagai “pertemuan untuk menyalakan lampu,” sebuah simbol pencerahan batin dan harapan akan kedamaian di dunia.
Menurut buku “Korean Culture and Traditions karya Kim Sung-hyun (2018)”, tradisi ini telah berlangsung sejak Dinasti Goryeo dan Joseon. Dahulu, festival ini berfungsi sebagai doa bersama untuk kesejahteraan rakyat dan keselamatan negara.
Kini, Yeondeunghoe telah berkembang menjadi acara budaya nasional yang terbuka bagi semua orang, tanpa memandang agama. Setiap tahun, ribuan lampion berbentuk bunga teratai dilepaskan ke langit malam atau mengalir di sungai-sungai, menciptakan pemandangan yang menenangkan dan penuh makna spiritual.
Selain sebagai perayaan keagamaan, Yeondeunghoe menjadi ajang persaudaraan dan kebersamaan. Masyarakat berkumpul di jalan-jalan Seoul, menyalakan lampion, menari, dan berdoa bersama.
Tidak hanya umat Buddha, tetapi juga wisatawan dan warga dari berbagai latar belakang turut bergabung. Hal ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dan perdamaian bersifat universal, melampaui batas kepercayaan dan budaya.
Dari Festival Lampion ini mengajarkan pentingnya menjaga cahaya kebaikan dalam diri setiap manusia. Lampion yang menyala melambangkan harapan agar kita semua dapat menjadi sumber penerangan bagi orang lain,menyebarkan kasih, kebijaksanaan, dan kedamaian.
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, Yeondeunghoe mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari harta atau kekuasaan, melainkan dari hati yang tulus dan damai.(*/janu)

