MEDIAAKU.COM – Penglihatan bayi tidak langsung sempurna sejak lahir. Para ahli perkembangan anak sepakat bahwa kemampuan melihat tumbuh bertahap seiring matangnya saraf dan otot mata.
Pandangan mereka masih buram, tetapi sudah mampu merespons perubahan cahaya dengan membuka atau memejamkan mata sedikit lebih lama. Pada masa ini, wajah orang yang menggendongnya biasanya menjadi bentuk pertama yang mereka “kenali”, meski belum benar-benar fokus.
Bayi mulai menunjukkan kemampuan melihat ketika matanya mulai mengikuti benda yang bergerak perlahan. Gerakan ini masih pendek dan tidak stabil, namun menjadi tanda awal bahwa otak dan mata mulai bekerja sama.
Respon visual sederhana, seperti menatap sumber cahaya atau tersenyum ketika melihat wajah orang tua, adalah proses alami yang tidak perlu dipaksakan atau dilatih secara berlebihan.
Dr. William Sears dalam “The Baby Book” menambahkan bahwa sekitar usia satu hingga dua bulan, bayi mulai dapat mengarahkan pandangannya pada wajah yang dikenali, terutama jika jaraknya sekitar 20–30 sentimeter.
Ini adalah jarak yang sering digunakan saat ibu atau ayah menggendong bayinya sehingga membantu proses ikatan emosional. Sears juga mencatat bahwa warna-warna cerah dan kontras tinggi menjadi lebih menarik bagi bayi, dan mereka mulai menatapnya sedikit lebih lama sebagai cara otak mempelajari pola.
Ciri-ciri bayi mulai melihat lebih jelas biasanya terlihat dari cara mereka menatap lebih fokus, mencoba mengikuti objek bergerak, dan menunjukkan respons emosional terhadap wajah.
Reaksi seperti tersenyum saat melihat wajah orang tua atau tampak lebih tenang ketika melihat sesuatu yang familiar menjadi tanda bahwa penglihatan mereka semakin baik. Dari waktu ke waktu, kemampuan ini berkembang menjadi koordinasi mata yang lebih stabil, kemampuan membedakan warna, hingga kemampuan mengenali detail.
Para ahli sepakat bahwa perkembangan penglihatan setiap bayi bisa berbeda, orang tua tidak perlu membandingkan perkembangan bayinya dengan bayi lain.
Hal yang terpenting adalah memberikan lingkungan yang hangat, aman, dan penuh stimulasi sederhana seperti tersenyum, berbicara lembut, atau menunjukkan benda kontras tanpa memaksa bayi untuk “latihan” visual tertentu.
Bila orang tua merasa ada kejanggalan, misalnya mata tampak tidak fokus secara konsisten atau tidak ada respons visual sama sekali setelah beberapa bulan, berkonsultasi dengan dokter anak adalah langkah terbaik.
Perkembangan bayi adalah perjalanan yang unik, lembut, dan penuh keajaiban. Tugas orang tua bukan mempercepat prosesnya, tetapi menemani, menguatkan, dan mencintai setiap langkah kecilnya.
Dengan perhatian yang penuh kasih, kemampuan melihat bayi bukan hanya soal visual, tetapi juga tentang bagaimana ia memandang dunia untuk pertama kalinya melalui kehangatan orang tuanya.(*/janu)

