Tuesday, January 13, 2026
HomeIbu dan AnakHubungan Retak dengan Anak: Masalah Siapa Sebenarnya?

Hubungan Retak dengan Anak: Masalah Siapa Sebenarnya?

MEDIAAKU.COM – Dalam kehidupan keluarga, terkadang jarak emosional tumbuh antara orang tua dan anak ,hal ini dapat muncul karena kurang komunikasi, perbedaan pandangan, kesibukan, atau gaya asuh yang terlalu kaku.

Ketika hal itu terjadi, hati terasa kosong, kehangatan hilang, dan masing-masing merasa tak dimengerti. Namun, hubungan itu bukan perkara tetap,dengan kesadaran dan upaya, kedekatan bisa diperbaiki kembali.

Menurut para ahli psikologi keluarga, fondasi hubungan sehat adalah komunikasi yang terbuka, saling mendengarkan, dan saling menghargai.  Bila komunikasi dibangun berdasarkan saling menghormati, maka konflik akan bisa dicegah atau diselesaikan dengan baik.

Menurut pendapat Haim G. Ginott dalam bukunya “Between Parent and Child”  ia menekankan pentingnya berbicara dengan anak atas dasar rasa hormat dan martabat, bukan dengan otoritas, memerintah, atau menghina.

Orang tua perlu introspeksi diri mengenali emosi sendiri, bersabar, mengurangi kemarahan atau nada menghakimi sehingga tercipta suasana hangat dalam rumah. Dengan demikian, anak merasa aman untuk terbuka, ungkapkan pikiran dan perasaan mereka.

Untuk membangun kembali rasa saling percaya dan kedekatan, orang tua dapat mulai dengan menyediakan waktu dan perhatian berkualitas. Ikut mendampingi aktivitas anak, mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, menghargai pendapat, dan memberi ruang bagi anak untuk berekspresi.

Ini sesuai dengan ide dalam banyak literatur parenting bahwa kelekatan emosional terbangun lewat keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak  bukan hanya dalam hal materi, tapi dalam hal empati, perhatian, dan dukungan.

Selain itu, penting bagi orang tua untuk menghindari pola asuh otoriter atau terlalu protektif. Pola seperti itu sering membuat anak merasa terkekang, takut menyampaikan pendapat, atau malah memilih menjauh demi menjaga “ruang nyaman”-nya sendiri. 

Sebaliknya, memberikan keleluasaan, dengan tetap mendampingi serta memberi batasan yang sehat, akan membuat anak merasa dihargai dan dibebaskan untuk tumbuh secara mandiri.

Membangun ulang hubungan juga bisa dimulai dari hal-hal sederhana: misalnya mengajak berbicara secara rutin tentang pengalaman sehari-hari, curhat ringan, mendengarkan tanpa menyela, memberi pujian saat anak berusaha, dan menunjukkan kasih sayang secara konsisten.Lewat hal kecil seperti ini, kehangatan yang sempat memudar bisa muncul lagi perlahan-lahan.

Keluarga harus jadi tempat aman bagi setiap anggota keluarga, tempat di mana setiap anak merasa dihargai, didengar, dan dicintai. Ketika orang tua membuka hati dan mendengarkan anak dengan tulus, dan anak pun berani berbicara jujur serta menghargai orang tua, maka jarak yang dulu terasa tak terjembatani bisa dilalui bersama.

Akhirnya, memperbaiki hubungan orang tua dan anak yang renggang bukan perkara sekejap, butuh kemauan, kesabaran, dan kejujuran. Tapi dengan komitmen untuk mendengarkan dan memahami, perubahan itu sangat mungkin. Hubungan yang dulu renggang bisa menjadi hangat kembali, dan keluarga bisa kembali menjadi tempat paling nyaman di mana setiap orang merasa dihargai dan dicintai.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular