Wednesday, January 14, 2026
HomeSejarah & BudayaMengapa Orang Jepang Duduk Seiza? Jejak Sejarah di Balik Tradisi yang Masih...

Mengapa Orang Jepang Duduk Seiza? Jejak Sejarah di Balik Tradisi yang Masih Bertahan

MEDIAAKU.COM – Seiza  secara harfiah dapat dikatakan sebagai “duduk dengan benar” adalah cara duduk tradisional dalam budaya Jepang di mana seseorang menekuk lutut, melipat kaki ke bawah, lalu duduk di atas tumit. Tumit dan telapak kaki menjadi tumpuan, dengan paha berada di atas betis.

Menurut Boye Lafayette De Mente seorang penulis dan analisis budaya, menekankan bahwa seiza merepresentasikan kerendahan hati, rasa hormat, dan kesediaan untuk mematuhi norma sosial

Dalam praktik sehari-hari di Jepang, posisi seiza biasanya digunakan dalam momen formal atau sakral  misalnya dalam upacara minum teh tradisional, doa, seni bela diri, atau pertemuan formal lainnya.

Posisi seiza memiliki akar sejarah panjang. Sejak periode ketika lantai dengan tikar tatami umum digunakan, orang Jepang sudah menerapkan cara duduk rapi sebagai bagian dari etiket dan tatakrama.

Pada zaman feodal terutama ketika kelas samurai dan kalangan bangsawan mendominasi , seiza menjadi simbol martabat, kesopanan, serta kesiapan dan keseriusan dalam menghadapi situasi formal.

Meski banyak aspek kehidupan Jepang sudah modern, seiza tetap dijaga di tradisi-tradisi tertentu  sebagai wujud penghormatan terhadap nilai budaya lama, disiplin, dan rasa hormat.

Beberapa ahli  budaya menggambarkan bahwa duduk seiza dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang dan fokus, karena tubuh menjadi lebih rileks dan secara simbolis menunjukkan ketulusan dan kesiapan mental dalam menjalani sebuah ritual atau pertemuan.

Dalam budaya Jepang, posisi ini sering digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua, guru, dalam doa, maupun dalam acara resmi sehingga seiza menjadi bagian dari etiket dasar dalam interaksi sosial.

Bagi orang yang tidak terbiasa  terutama dari luar Jepang duduk seiza bisa terasa tidak nyaman atau bahkan menyakitkan. Banyak yang mengeluh kaki “mati rasa”, pegal, atau sulit mempertahankan posisi tersebut dalam jangka waktu lama.

Seiring berubahnya gaya hidup dan arsitektur hunian di mana furnitur seperti kursi menjadi umum, dan lantai tatami jarang digunakan praktik seiza juga semakin berkurang dalam keseharian banyak orang di Jepang modern.

Meski demikian, di lingkungan tradisional  seperti dojo seni bela diri, rumah tradisional, atau acara formal seiza tetap dipertahankan sebagai simbol identitas budaya.

Seiza mengajarkan kita bahwa cara  duduk  atau dengan kata lain, sikap kita  bisa bermakna jauh lebih dari sekadar fisik. Duduk dengan benar, dengan hormat, menunjukkan bahwa kita menghargai orang lain, tradisi, dan situasi di mana kita berada.

Seiza bukan sekadar “cara duduk tradisional Jepang”, ia adalah bagian dari identitas budaya, etiket, dan pelajaran hidup tentang penghormatan, ketenangan, dan kesadaran diri.

Meski tak semua orang cocok atau terbiasa melakukannya, nilai inti di balik seiza tetap relevan: menghargai diri sendiri, menghormati orang lain, dan menjaga rasa hormat terhadap tradisi dan lingkungan di sekitar kita.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular