MEDIAAKU.COM – Wabi-sabi adalah konsep estetika dan filosofi hidup yang berasal dari Jepang. Wabi-sabi mengajarkan cara memandang keindahan bukan dari kesempurnaan, kemewahan, atau keabadian, melainkan dari kesederhanaan, ketidaksempurnaan, dan perubahan.
Dalam dunia modern yang sering menuntut segalanya tampak sempurna, wabi-sabi hadir sebagai pengingat bahwa hidup apa adanya juga memiliki nilai dan makna.Secara sederhana, “wabi” berarti kesederhanaan dan ketenangan, sedangkan “sabi” berkaitan dengan keindahan yang muncul dari usia, waktu, dan pengalaman.
Menurut Leonard Koren dalam bukunya “Wabi-Sabi for Artists, Designers, Poets & Philosophers”, wabi-sabi adalah cara melihat dunia yang menerima ketidakkekalan dan ketidaksempurnaan sebagai bagian alami dari kehidupan.
Retakan pada keramik, warna yang memudar, atau benda tua yang usang justru dianggap indah karena menyimpan cerita dan perjalanan waktu.Filosofi wabi-sabi sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Manusia sering merasa tidak cukup baik karena membandingkan diri dengan orang lain. Standar kesuksesan, kecantikan, dan kebahagiaan sering dibuat seragam.
Wabi-sabi mengajarkan bahwa setiap individu memiliki keunikan dan kekurangannya sendiri, dan hal tersebut bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari kekurangan itulah manusia belajar, tumbuh, dan menjadi lebih bijaksana.
Dalam bukunya “The Book of Tea”, Okakura Kakuzō menjelaskan bahwa wabi-sabi juga tercermin dalam upacara minum teh Jepang yang sederhana dan tenang. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya fokus pada momen, ketulusan, dan kebersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi bisa ditemukan dalam momen kecil yang sering terabaikan.
Di era modern yang serba cepat, filosofi wabi-sabi mengajak manusia untuk memperlambat langkah, menerima diri sendiri, dan berdamai dengan ketidaksempurnaan. Hidup tidak harus selalu rapi dan ideal untuk bisa bermakna. Kesalahan, kegagalan, dan luka adalah bagian dari proses menjadi manusia.
Ketika seseorang mampu menghargai ketidaksempurnaan, ia akan lebih bersyukur, tenang, dan tidak mudah tertekan oleh tuntutan dunia. Wabi-sabi mengajarkan bahwa keindahan sejati bukan terletak pada kesempurnaan, melainkan pada kejujuran dalam menjalani hidup.(*/janu)

