Monday, February 2, 2026
HomeSejarah & BudayaTradisi Bancakan: Mengapa Kita Perlu Memahaminya Kembali?

Tradisi Bancakan: Mengapa Kita Perlu Memahaminya Kembali?

MEDIAAKU.COM – Bancakan merupakan salah satu tradisi budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Jawa dan masih dijumpai hingga sekarang.

Secara sederhana, bancakan adalah kegiatan makan bersama dengan hidangan yang disusun di atas tampah atau alas tertentu, lalu disantap secara bersama-sama. Tradisi ini tidak sekadar tentang makanan, tetapi mengandung nilai sosial, spiritual, dan kebersamaan yang kuat.

Menurut pendapat Niels Mulder dalam bukunya yang terkenal, “Mysticism in Java: Ideology in Indonesia” menjelaskan bahwa upacara komunal seperti slametan atau bancakan adalah upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keteraturan kosmis dan harmoni antara tiga pilar tersebut: hubungan sosial , hubungan dengan alam semesta, dan hubungan dengan kekuatan supranatural.

Bancakan biasanya dilakukan dalam berbagai peristiwa penting, seperti kelahiran, khitanan, pernikahan, pindah rumah, hingga peringatan hari tertentu. Melalui bancakan, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas berkah yang diterima serta memohon keselamatan dan kelancaran dalam kehidupan.

Pada masa lalu, bancakan juga berkaitan erat dengan sistem kepercayaan tradisional. Sajian makanan yang dihidangkan memiliki makna simbolis, seperti nasi tumpeng yang melambangkan harapan akan kehidupan yang sejahtera dan berkah.

Lauk-pauk yang disertakan mencerminkan keberagaman rezeki dan keseimbangan hidup. Makanan tersebut kemudian dimakan bersama tanpa memandang status sosial, usia, maupun latar belakang, sehingga menciptakan rasa kesetaraan di antara warga.

Dalam perkembangannya, makna bancakan mengalami penyesuaian dengan zaman. Jika dahulu bancakan lebih kental dengan unsur ritual dan kepercayaan tradisional, kini bancakan lebih dipahami sebagai sarana mempererat hubungan sosial.

Bancakan sering dilakukan dalam kegiatan keluarga, sekolah, atau lingkungan masyarakat sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong. Meski bentuk dan pelaksanaannya semakin sederhana, nilai utama bancakan tetap terjaga, yaitu kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian sosial.

Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis, tradisi bancakan menjadi pengingat pentingnya berbagi dan menjaga hubungan antar manusia.

Bancakan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari kepemilikan pribadi, tetapi juga dari kebersamaan dan keikhlasan berbagi dengan sesama. Nilai ini relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta masyarakat yang harmonis dan berempati.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular