MEDIAAKU.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa integritas dan mentalitas bertahan menjadi bekal utama santri dalam menyikapi pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Hal itu disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertajuk “Menyikapi Zaman Artificial Intelligence dan Peran Selaku Santri” di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Melansir laman Kemendikdasmen, Senin (2/2/2026) Dalam paparannya, Fajar menjelaskan bahwa latar belakang santri masuk pesantren sangat beragam, mulai dari pilihan pribadi, dorongan orang tua, hingga ajakan lingkungan sekitar. Namun, ketika sudah berada di pesantren, setiap santri dituntut memiliki komitmen penuh dan kesungguhan dalam menempuh proses pendidikan.
Ia menekankan bahwa proses belajar tidak cukup dijalani secara formal, tetapi harus disertai ketulusan hati. Ketekunan, keuletan, dan kesabaran disebut sebagai unsur penting yang melengkapi kecerdasan intelektual. Menurutnya, perpaduan antara kemampuan berpikir dan sikap pantang menyerah merupakan modal kuat untuk meraih keberhasilan.
Fajar juga menyinggung kiprah para alumni pesantren yang telah berkontribusi di berbagai sektor, seperti pendidikan, dunia usaha, hingga pemerintahan. Ia menilai, capaian tersebut tidak terlepas dari pembentukan karakter dan mental bertahan yang ditempa selama menjalani pendidikan di pesantren.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak semata diukur dari posisi atau materi, melainkan dari sejauh mana seseorang memberi manfaat bagi sesama. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi ciri khas pendidikan pesantren yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Menanggapi penggunaan AI dalam dunia pendidikan, Fajar menegaskan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran, asalkan digunakan dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Disiplin, integritas, serta sikap amanah disebut sebagai fondasi utama agar manusia tidak justru dikuasai oleh teknologi.
Selain penguatan karakter, ia menambahkan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan nurani serta kemampuan berpikir kritis dan analitis. Penguasaan ilmu dan hafalan, menurutnya, perlu dibarengi dengan daya nalar yang tajam.
Dalam sesi diskusi, Fajar mengungkapkan bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi bahan evaluasi Kemendikdasmen untuk meninjau kembali pola pembelajaran di sekolah. Evaluasi tersebut tidak hanya menyoroti isi materi, tetapi juga metode pengajaran yang diterapkan guru.
Ia menutup dengan menegaskan pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning) yang mendorong proses belajar lebih bermakna, sadar, dan menyenangkan. Melalui pendekatan ini, Kemendikdasmen mengajak para pendidik untuk fokus memperbaiki cara mengajar agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi berkarakter, berintegritas, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.(*/Stephany)

