Friday, February 6, 2026
HomeIbu dan AnakAnak Kembar dan Ikatan Batin: Kebetulan, Sugesti, atau Bukti Nyata?

Anak Kembar dan Ikatan Batin: Kebetulan, Sugesti, atau Bukti Nyata?

MEDIAAKU.COM – Anak kembar sering dianggap memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Banyak cerita menyebutkan bahwa anak kembar bisa saling merasakan emosi, mengetahui kondisi saudaranya tanpa diberi tahu, bahkan mengalami hal yang sama di waktu berbeda.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah ikatan batin anak kembar benar-benar fakta ilmiah, atau hanya sekadar mitos yang berkembang di masyarakat?.Dalam psikologi perkembangan, anak kembar memang memiliki hubungan yang unik.

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman dalam buku “Human Development”, anak kembar, terutama kembar identik, memiliki kedekatan emosional yang lebih tinggi dibandingkan saudara kandung biasa.

Kedekatan ini terbentuk karena mereka tumbuh bersama sejak dalam kandungan, berbagi lingkungan yang sama, serta sering diperlakukan sebagai satu kesatuan oleh keluarga dan lingkungan sosial. Faktor-faktor inilah yang memperkuat rasa keterikatan emosional.

Ikatan batin yang sering dianggap sebagai kemampuan “telepati” sebenarnya dapat dijelaskan secara psikologis. Anak kembar biasanya mengenal kebiasaan, ekspresi, dan reaksi saudaranya dengan sangat baik. Hal ini membuat mereka seolah-olah “tahu” apa yang sedang dirasakan oleh kembarannya, padahal itu merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman jangka panjang.

Penelitian ilmiah belum menemukan bukti kuat bahwa anak kembar memiliki kemampuan supranatural untuk saling terhubung secara batin tanpa penjelasan psikologis. Oleh karena itu, anggapan bahwa anak kembar bisa merasakan sakit atau kejadian yang sama secara gaib lebih tepat disebut sebagai mitos.

Namun, fakta yang tidak dapat disangkal adalah adanya kedekatan emosional yang kuat, rasa saling bergantung, dan hubungan sosial yang sangat intens di antara anak kembar.

Meski memiliki ikatan yang kuat, anak kembar tetaplah individu yang berbeda. Mereka memiliki kepribadian, minat, dan tujuan hidup masing-masing. Jika ikatan batin terlalu dilebih-lebihkan, justru dapat menghambat perkembangan identitas pribadi mereka.

Kedekatan emosional adalah hal yang indah dan patut dijaga, tetapi setiap anak tetap perlu dihargai sebagai individu yang unik. Hubungan yang sehat bukanlah tentang ketergantungan berlebihan, melainkan tentang saling mendukung sambil tetap memberi ruang untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular