MEDIAAKU.COM – Butter tea adalah minuman tradisional yang berasal dari wilayah Tibet dan daerah pegunungan Himalaya.Minuman ini dikenal juga dengan nama “po cha”.
Bagi masyarakat setempat, butter tea bukan sekadar minuman penghangat tubuh, tetapi bagian penting dari kehidupan sehari-hari dan budaya mereka. Minuman ini biasanya disajikan kepada tamu sebagai bentuk penghormatan dan keramahan.
Butter tea dibuat dari campuran teh hitam, mentega yak, garam, dan air panas.Proses pembuatannya cukup unik karena semua bahan dicampur dan dikocok hingga menghasilkan tekstur yang kental dan rasa gurih.
Menurut Goldstein (1998) dalam bukunya “The Snow Lion and the Dragon”, butter tea telah dikonsumsi selama berabad-abad oleh masyarakat Tibet untuk membantu mereka bertahan hidup di lingkungan yang dingin dan berketinggian tinggi. Kandungan lemak dari mentega yak memberikan energi dan membantu menjaga suhu tubuh.
Selain fungsi fisik, butter tea juga memiliki makna sosial dan spiritual. Dalam budaya Tibet, minum butter tea bersama-sama melambangkan kebersamaan dan rasa syukur. Tradisi ini sering dilakukan saat berkumpul dengan keluarga, upacara keagamaan, maupun menerima tamu. Butter tea menjadi simbol kehangatan hubungan antarindividu di tengah kondisi alam yang keras.
Dari sisi kesehatan, butter tea memberikan manfaat sekaligus tantangan. Lemak yang tinggi dapat membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi jika dikonsumsi berlebihan bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan.
Menurut Kiple dan Ornelas (2000) dalam “The Cambridge World History of Food”, pola konsumsi tradisional sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kebutuhan masyarakatnya.
Oleh karena itu, butter tea cocok bagi masyarakat pegunungan yang membutuhkan asupan kalori tinggi, tetapi belum tentu sesuai jika dikonsumsi secara berlebihan oleh masyarakat modern.
Di era globalisasi, butter tea mulai dikenal oleh dunia luar sebagai minuman unik dengan cita rasa khas. Banyak orang tertarik mencobanya sebagai bagian dari wisata budaya. Hal ini menunjukkan bahwa makanan dan minuman tradisional dapat menjadi jembatan untuk memahami budaya lain dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Setiap budaya memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup dan membangun kebersamaan. Butter tea mengajarkan bahwa kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur adalah nilai yang tetap relevan, meskipun zaman terus berubah.(*/janu)

