MEDIAAKU.COM – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat langkah pemulihan ekonomi di Sumatera Barat melalui program Klinik UMKM Minang Bangkit.
Inisiatif ini difokuskan pada penyaluran peralatan dan bahan baku produksi kepada pelaku UMKM di 12 kabupaten dan kota yang terdampak bencana, guna mendorong kembali aktivitas usaha di daerah tersebut.
Melansir laman KemenUMKM, Rabu (11/2/2026) Bantuan tersebut ditujukan agar berbagai unit usaha seperti toko, warung, kafe, hingga restoran dapat kembali beroperasi dan berperan sebagai penggerak ekonomi lokal. Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Siti Azizah, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari Layanan Produksi yang dirancang untuk membantu pelaku usaha yang mengalami penghentian kegiatan akibat bencana alam.
Menurut Azizah, Kementerian UMKM berkomitmen berada di garda terdepan dalam upaya pemulihan UMKM terdampak. Melalui Klinik UMKM Minang Bangkit, pemerintah menyediakan ruang pemulihan agar para pelaku usaha dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi dan berkontribusi bagi daerahnya.Data SIDT-UMKM mencatat jumlah pelaku UMKM di Sumatera Barat mencapai 662.242 unit per 31 Oktober 2025.
Sementara itu, berdasarkan Dashboard Satu Data Kebencanaan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat per 18 Januari 2026, sedikitnya 4.876 pelaku UMKM tercatat terdampak bencana.
Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 menyebabkan penurunan kapasitas produksi, hilangnya pasar, hingga terhentinya kegiatan usaha. Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah pemulihan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Untuk mempercepat proses tersebut, Klinik UMKM Minang Bangkit beroperasi di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat sebagai pusat komando dan layanan pemulihan pascabencana.
Program ini didukung oleh berbagai mitra, termasuk Bank Indonesia, Sampoerna Entrepreneurship Training Center, PLUT KUKM Sumatera Barat, Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Sumatera Barat, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Pendampingan dilakukan melalui tiga tahapan utama. Fase Pulih Mental berfokus pada pemulihan psikologis dan penguatan motivasi berusaha. Fase Pulih Usaha diarahkan pada pemulihan operasional melalui akses pembiayaan, pengelolaan modal, dan manajemen risiko. Sementara itu, Fase Tumbuh bertujuan meningkatkan daya saing UMKM melalui inovasi produk, pemasaran, digitalisasi, serta penguatan jejaring usaha.
Dalam pelaksanaannya, pemulihan melibatkan 19 mitra dengan total penyaluran bantuan berupa 1.140 unit kompor, 1.040 tabung gas, 415 paket bahan baku produksi, 195 peralatan masak, serta 10.000 sak semen. Bantuan disalurkan secara bertahap ke berbagai wilayah terdampak.
Pada akhir Januari 2026, bantuan kompor dan tabung gas disalurkan ke Kota Padang, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, dan Kabupaten Agam dengan jumlah yang bervariasi.
Penyaluran berlanjut pada awal Februari 2026 ke Kota Solok, Kabupaten Solok, serta tambahan peralatan masak untuk beberapa daerah lainnya. Tahap berikutnya pada 9 Februari 2026 mencakup pendampingan usaha dan distribusi peralatan ke Padang, Pesisir Selatan, Pariaman, Tanah Datar, serta Padang Pariaman.
Program ini turut melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya BRI, BSI, PLN, Grab Indonesia, Goto, PNM, Pegadaian, BNI, Semen Padang, Telkom, hingga sejumlah institusi pendidikan dan yayasan sosial.
Selain dukungan sarana produksi, layanan pemulihan juga mencakup pendampingan psikologis atau trauma healing, dukungan spiritual melalui tokoh agama, serta fasilitasi pembiayaan dan pemulihan bisnis.
Melalui upaya terpadu ini, Kementerian UMKM berharap pelaku usaha di Sumatera Barat dapat bangkit, berkembang, dan kembali menjadi pilar ekonomi daerah pascabencana.(*/Stephany)

