Sunday, February 15, 2026
HomeSejarah & BudayaMengapa Istana Potala Menjadi Simbol Spiritual Tibet?

Mengapa Istana Potala Menjadi Simbol Spiritual Tibet?

MEDIAAKU.COM – Istana Potala adalah bangunan bersejarah yang berdiri megah di Lhasa, Tibet. Istana ini bukan sekadar karya arsitektur, tetapi juga simbol penghormatan terhadap leluhur dan nilai spiritual masyarakat Tibet.

Dibangun pada abad ke-7 oleh Raja Songtsen Gampo, Istana Potala awalnya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan tempat ibadah. Seiring waktu, istana ini menjadi kediaman Dalai Lama dan pusat keagamaan Buddhisme Tibet yang sangat dihormati.

Menurut Snellgrove dan Richardson dalam buku “A Cultural History of Tibet”, Istana Potala mencerminkan hubungan erat antara kekuasaan, agama, dan tradisi leluhur masyarakat Tibet.

Bangunan ini didirikan di Bukit Merah yang dianggap suci, menunjukkan penghormatan terhadap alam dan roh para pendahulu. Setiap bagian istana dirancang dengan makna simbolis, mulai dari warna dinding hingga tata letak ruangan, yang mencerminkan ajaran Buddha dan warisan leluhur.

Istana Potala juga menjadi tempat penyimpanan relik suci, naskah kuno, dan stupa pemakaman Dalai Lama terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa leluhur tidak hanya dikenang, tetapi juga dihormati sebagai bagian dari kehidupan spiritual yang berkelanjutan.

Dalam buku “The Potala Palace of Tibet” karya Tsering Gyalbo, dijelaskan bahwa ritual dan doa yang dilakukan di istana bertujuan menjaga hubungan harmonis antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Penghormatan kepada leluhur di Istana Potala tidak diwujudkan melalui pemujaan berlebihan, melainkan melalui pelestarian nilai, ajaran, dan kebijaksanaan yang diwariskan.

Tradisi ini mengajarkan bahwa leluhur adalah sumber identitas dan pedoman moral bagi masyarakat Tibet. Dengan menjaga istana dan fungsinya, masyarakat Tibet berusaha mempertahankan warisan budaya yang telah membentuk jati diri mereka selama berabad-abad.

Melalui pelestarian budaya dan sejarah, manusia belajar untuk tidak melupakan asal-usulnya serta bertanggung jawab mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. Sejarah ini mengajarkan bahwa menghormati leluhur berarti menjaga keseimbangan antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan modern.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular