Friday, February 13, 2026
HomeEkonomiMenkeu Soroti Tingginya Margin Bunga Bersih Perbankan Indonesia

Menkeu Soroti Tingginya Margin Bunga Bersih Perbankan Indonesia

MEDIAAKU.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti masih lebarnya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) industri perbankan nasional. Dalam acara economic outlook di Graha CIMB Niaga, Jakarta, ia menyebut persoalan tingginya NIM sudah berlangsung puluhan tahun dan belum menunjukkan perubahan signifikan.

‎Melansir BeritaSatu, Jumat (13/2/2026) Pernyataan tersebut muncul di tengah kondisi ketika Bank Indonesia telah beberapa kali memangkas suku bunga acuan. Namun, penurunan itu dinilai belum sepenuhnya tercermin pada bunga kredit yang ditawarkan perbankan. Akibatnya, muncul persepsi adanya jarak antara kebijakan moneter yang ditetapkan otoritas dengan realisasinya di sektor riil.

‎Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata NIM perbankan berada di level 4,56% pada Desember 2025, sedikit turun dibandingkan posisi Desember 2024 sebesar 4,62%.

Meski ada penurunan, sejumlah bank besar masih membukukan margin di kisaran 5% hingga 6%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat yang rata-rata NIM-nya sekitar 2–3%, serta Australia yang berada di level sekitar 2%.

‎Menurut Purbaya, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah struktur industri perbankan nasional yang cenderung oligopolistik. Dengan struktur pasar seperti itu, persaingan untuk menurunkan suku bunga kredit berjalan lebih lambat, sehingga margin bunga tetap relatif tinggi. Ia berpendapat perlu ada langkah kebijakan yang mampu mendorong efisiensi dan mempercepat penyesuaian suku bunga.

‎Meski demikian, ia melihat tanda-tanda perbaikan mulai muncul seiring pelonggaran suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Ia mengingatkan bahwa dampak kebijakan moneter terhadap sektor perbankan dan perekonomian tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses transmisi yang memerlukan waktu. Dalam pandangannya, efek positif terhadap arah ekonomi sudah mulai terlihat beberapa bulan setelah penurunan suku bunga dilakukan.

‎Sebagai pengelola fiskal negara, Purbaya juga memastikan kondisi likuiditas tetap terjaga agar peluang penurunan bunga kredit semakin terbuka. Ia menjelaskan bahwa meskipun terdapat penarikan dana sekitar Rp70 triliun dari perbankan, dana tersebut kembali berputar ke sistem melalui berbagai program pembangunan pemerintah. Dengan likuiditas yang memadai, ia optimistis ruang untuk suku bunga yang lebih rendah akan semakin terbuka ke depan.(*/Stephany)

RELATED ARTICLES

Terpopular