MEDIAAKU.COM – Hanacaraka merupakan aksara tradisional Jawa yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Aksara ini digunakan oleh masyarakat Jawa sejak berabad-abad lalu sebagai alat komunikasi tulis, baik dalam bidang sastra, pemerintahan, maupun keagamaan. Hanacaraka bukan sekadar sistem tulisan, tetapi juga mengandung filosofi hidup yang mencerminkan cara pandang masyarakat Jawa terhadap dunia.
Menurut Zoetmulder dalam bukunya “Kalangwan: Sastra Jawa Kuno (1985)”, aksara Jawa berkembang dari aksara Brahmi India yang kemudian masuk ke Nusantara melalui pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha.
Dalam perkembangannya, aksara tersebut mengalami penyesuaian dengan bahasa dan budaya lokal hingga akhirnya menjadi aksara Jawa yang dikenal sekarang.Tulisan ini mulai digunakan secara luas pada masa Kerajaan Mataram Kuno dan terus berkembang hingga era Kesultanan Mataram Islam.
Istilah “Hanacaraka” berasal dari lima aksara pertama dalam urutan aksara Jawa: ha, na, ca, ra, ka,yang memiliki makna “ada utusan” atau “utusan yang mengutus”, merujuk pada utusan dari yang Maha Kuasa.
Menurut Poerbatjaraka, seorang ahli sastra Jawa, urutan aksara tersebut tidak disusun secara acak, melainkan mengandung makna simbolis.
Cerita yang paling dikenal adalah legenda Aji Saka, yang menceritakan dua abdi setia yang saling bertarung karena sama-sama memegang amanah. Kisah ini melambangkan nilai kesetiaan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Seluruh rangkaian aksara Jawa dipercaya menggambarkan perjalanan hidup manusia, dari keberadaan hingga kembali kepada Sang Pencipta.Dalam bukunya Kebudayaan Jawa (1994), Koentjaraningrat menjelaskan bahwa aksara Jawa merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Jawa. Melalui tulisan, nilai-nilai luhur seperti tata krama, kesopanan, dan keseimbangan hidup diwariskan dari generasi ke generasi.
Sayangnya, penggunaan Hanacaraka semakin berkurang seiring berkembangnya aksara Latin dan teknologi modern.Meskipun demikian, Hanacaraka tetap memiliki peran penting sebagai warisan budaya. Upaya pelestarian melalui pendidikan, seni, dan media digital menjadi langkah penting agar aksara ini tidak hilang ditelan zaman.
Mengenal sejarah Hanacaraka berarti mengenal jati diri dan kebijaksanaan leluhur bangsa.Di tengah arus globalisasi, generasi muda diharapkan tidak melupakan akar budayanya. Dengan mempelajarinya kita belajar tentang kesetiaan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari.(*/janu)

