MEDIAAKU.COM – Ruwatan merupakan salah satu tradisi budaya Jawa yang bertujuan untuk membersihkan diri dari kesialan, gangguan, atau nasib buruk yang diyakini melekat pada seseorang.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ruwatan sering dikaitkan dengan individu yang dianggap “sukerta”, yaitu orang yang berada dalam kondisi tertentu yang dipercaya rawan tertimpa mara bahaya. Tradisi ini tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga mengandung makna simbolis dan nilai spiritual yang mendalam.
Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan Jawa”, ruwatan adalah upacara adat yang berfungsi sebagai sarana penyelarasan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan gaib.
Salah satu ciri utamanya adalah adanya prosesi sakral yang dipimpin oleh seorang dalang atau tokoh spiritual yang dianggap memiliki pengetahuan dan kewenangan budaya.
Dalang biasanya membawakan lakon wayang tertentu, seperti Murwakala, yang melambangkan perjuangan manusia dalam membebaskan diri dari ancaman dan ketakutan.
Ciri lain dari tradisi ini adalah penggunaan simbol-simbol khusus. Simbol tersebut dapat berupa sesaji, air suci, bunga, atau perlengkapan adat lainnya yang masing-masing memiliki makna filosofis.
Air melambangkan penyucian, bunga melambangkan keharuman budi pekerti, dan sesaji melambangkan rasa syukur kepada Tuhan. Semua simbol ini menunjukkan bahwa ruwatan bukan sekadar ritual fisik, tetapi juga proses batin untuk membersihkan pikiran dan perilaku.
Tradisi ini juga ditandai dengan doa-doa dan nasihat moral yang disampaikan kepada orang yang diruwat. Menurut Endraswara dalam “Filsafat Jawa”, inti dari ruwatan adalah pembentukan kesadaran diri agar manusia hidup lebih selaras dengan nilai-nilai kebaikan.
Oleh karena itu, tradisi ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran etika, seperti kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab.Selain itu, ruwatan biasanya dilakukan secara terbuka dan melibatkan keluarga serta masyarakat sekitar.
Hal ini menunjukkan bahwa ruwatan memiliki fungsi sosial, yaitu mempererat hubungan antaranggota masyarakat dan menumbuhkan rasa kebersamaan.Dukungan sosial ini dipercaya dapat memberi ketenangan batin bagi individu yang menjalaninya.
Ruwatan mengajarkan bahwa nasib buruk tidak hanya dihindari melalui ritual, tetapi juga melalui perilaku yang baik dan pikiran yang bersih. Dengan demikian, tradisi ini dapat dipahami sebagai simbol ajakan untuk menjadi manusia yang lebih sadar, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan.(*/janu)

