MEDIAAKU.COM – Burnout jarang muncul secara tiba-tiba dengan tanda yang mencolok. Banyak orang tetap mampu beraktivitas seperti biasa, tetapi mulai merasa cepat lelah, kurang bersemangat, dan tidak lagi merasakan kepuasan dari hal-hal yang dulu menyenangkan. Kondisi ini sering berkembang perlahan akibat pola sehari-hari yang tampak wajar, namun terus menguras energi mental dan emosional.
Berikut beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko burnout:
1.Sulit Menolak Permintaan
Keinginan untuk selalu membantu atau terlihat andal kerap membuat seseorang terus menerima tanggung jawab baru.
Riset dalam Journal of Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa beban kerja berlebihan tanpa kendali yang cukup menjadi pemicu utama kelelahan kerja. Terlalu sering berkata “ya” bisa membuat energi terkuras bukan karena tidak mampu, melainkan karena beban yang melampaui kapasitas.
2.Perfeksionisme yang Tidak Disadari
Standar tinggi memang bisa mendorong kualitas kerja, tetapi perfeksionisme yang berlebihan justru berdampak sebaliknya.
Studi di Personality and Individual Differences menemukan bahwa perfeksionisme maladaptif berkaitan dengan kelelahan emosional. Tekanan untuk selalu sempurna dapat menciptakan beban batin yang terus menumpuk.
3.Batas Kerja dan Istirahat yang Kabur
Kemajuan teknologi membuat pekerjaan mudah terbawa hingga ke waktu pribadi.
Menurut Journal of Applied Psychology, kesulitan memisahkan urusan profesional dan kehidupan personal meningkatkan risiko kelelahan kronis. Jika pikiran terus aktif memikirkan pekerjaan, tubuh tidak mendapatkan kesempatan pulih sepenuhnya.
4.Terlalu Lama Memendam Emosi
Menjaga sikap profesional sering membuat seseorang menahan rasa marah, kecewa, atau sedih.
Penelitian dalam Emotion Review menyebutkan bahwa pengelolaan emosi tanpa saluran ekspresi yang sehat dapat mempercepat kelelahan psikologis. Beban emosional yang dipendam cenderung terasa semakin berat seiring waktu.
5.Mengabaikan Tanda Awal dari Tubuh
Kesulitan tidur, mudah tersinggung, hingga hilangnya motivasi sering menjadi sinyal awal kelelahan.
Studi di Journal of Health Psychology menegaskan bahwa mengabaikan tanda-tanda ini membuat proses pemulihan menjadi lebih lama. Mengenali gejala sejak dini jauh lebih efektif dibanding menunggu hingga kondisi memburuk.
Burnout bukan semata akibat bekerja terlalu keras. Ia kerap tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda. Dengan menyadari pola-pola tersebut, kamu dapat menata kembali ritme hidup dan menjaga energi sebelum benar-benar terkuras.(*/Stephany)

