MEDIAAKU.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan faktor penting dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas. Karena itu, dukungan terhadap kesehatan mental dan individu neurodivergen perlu diperkuat, dimulai dari lingkungan keluarga.
Melansir laman Kemenkes, Selasa (13/10/2026) Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono saat membuka talkshow “Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergen Berdaya” dalam Festival Suara Jiwa di Jakarta.
Dante mengingatkan bahwa kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak untuk meraih masa depan yang baik. Ia mengajak masyarakat menciptakan lingkungan inklusif agar setiap individu dapat mengembangkan potensinya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa gangguan kesehatan jiwa masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2023 menempatkan gangguan jiwa sebagai penyebab terbesar kedua Years Lived with Disability (YLD) di Indonesia, dengan depresi, kecemasan, dan skizofrenia sebagai kontributor utama.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun sebesar 1,4 persen. Namun, hanya 12,7 persen penderita depresi yang mendapatkan pengobatan.
Keterbatasan tenaga profesional turut menjadi tantangan. Berdasarkan data per 1 September 2026, Indonesia memiliki 1.495 psikiater, atau satu psikiater untuk setiap 180 ribu penduduk. Selain itu, dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang bertugas di Puskesmas.
Untuk memperluas layanan, Kemenkes memperkuat skrining kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan layanan bagi ibu hamil serta ibu pascapersalinan. Skrining ini telah menjangkau lebih dari 71,8 juta orang, dengan temuan dugaan gejala depresi pada 1,2 persen sasaran dan kecemasan pada 0,9 persen sasaran.
Kemenkes juga meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa untuk ibu hamil dan ibu pascapersalinan, anak dan remaja, orang dewasa, serta lansia. Panduan tersebut ditujukan untuk membantu tenaga kesehatan di Puskesmas menindaklanjuti hasil skrining.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap deteksi dini dan penanganan kesehatan jiwa semakin optimal sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan yang dibutuhkan tanpa stigma dan diskriminasi.(*/Stephany)

