MEDIAAKU.COM – Masa depan anak sering menjadi sumber kekhawatiran bagi orang tua. Keinginan agar anak hidup sukses, bahagia, dan terhindar dari kesulitan membuat banyak orang tua terus memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Kekhawatiran ini sebenarnya wajar, tetapi ketika muncul secara berlebihan dan terus-menerus, hal tersebut dapat berkembang menjadi overthinking. Overthinking terhadap masa depan anak bukan hanya melelahkan secara emosional, tetapi juga dapat berdampak pada pola asuh dan perkembangan psikologis anak.
Menurut Santrock dalam buku “Life-Span Development”, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk rasa percaya diri dan kemandirian anak.
Kecemasan yang berlebihan sering membuat orang tua terlalu mengontrol kehidupan anak. Mereka cenderung menentukan pilihan sekolah, pergaulan, bahkan cita-cita anak tanpa memberi ruang bagi anak untuk mengenal dirinya sendiri. Akibatnya, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang ragu mengambil keputusan dan takut gagal.
Overthinking juga sering dipicu oleh tekanan sosial. Orang tua membandingkan perkembangan anaknya dengan anak lain, baik dalam prestasi akademik maupun kemampuan sosial. Perbandingan ini memunculkan rasa takut tertinggal dan gagal sebagai orang tua.
Dalam buku “Psikologi Perkembangan Anak” karya Hurlock dijelaskan bahwa setiap anak memiliki tahap perkembangan dan potensi yang berbeda. Ketika orang tua tidak memahami perbedaan ini, kekhawatiran yang muncul justru menjadi beban bagi anak.
Dampak dari overthinking terhadap masa depan anak tidak hanya dirasakan oleh orang tua, tetapi juga oleh anak itu sendiri. Anak dapat merasa tertekan oleh harapan yang terlalu tinggi dan merasa hidupnya selalu diawasi.
Kondisi ini berisiko menurunkan kesehatan mental anak, seperti munculnya kecemasan, stres, atau rasa takut untuk mencoba hal baru. Anak yang terus dibayangi ketakutan akan masa depan juga sulit menikmati proses belajar dan tumbuh kembangnya.
Bagi orang tua memikirkan masa depan anak memang penting, tetapi kepercayaan dan dukungan jauh lebih dibutuhkan. Orang tua perlu belajar mengelola kekhawatiran dan fokus pada pendampingan yang sehat.
Memberi ruang bagi anak untuk belajar dari kesalahan akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Masa depan tidak dibangun dari ketakutan, melainkan dari kepercayaan, kasih sayang, dan proses yang dijalani bersama.(*/janu)

