MEDIAAKU.COM – Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan kesiapan dalam menghadapi potensi musim kemarau panjang tahun 2026, dengan memastikan pasokan air dari Waduk Gajah Mungkur tetap terjaga. Langkah ini menjadi penting menyusul prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung hingga akhir tahun.
Melansir laman KemenPU, Selasa (7/4/2026) Menteri PU, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa berbagai strategi telah disiapkan agar kebutuhan air, terutama untuk sektor pertanian, tetap terpenuhi sepanjang musim kering.
“Waduk ini harus tetap mampu menyuplai kebutuhan air, terutama untuk irigasi pertanian. Insyaallah aman, kita siapkan berbagai langkah agar kebutuhan air tetap terpenuhi hingga musim kemarau berakhir,” Ujarnya.
Saat ini, Waduk Gajah Mungkur berperan penting dalam mengairi sekitar 25.000 hektare lahan pertanian melalui jaringan irigasi Colo Barat dan Colo Timur. Dengan cadangan air mencapai sekitar 340 juta meter kubik dan kapasitas efektif 260 juta meter kubik, waduk ini menjadi salah satu tulang punggung ketahanan air di wilayah tersebut.
Untuk menjaga daya tampung dan fungsi waduk, Kementerian PU melakukan pengendalian sedimentasi secara intensif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengerukan endapan dengan menggunakan kapal keruk serta pembangunan infrastruktur penahan sedimen.
“Pengerukan dilakukan secara rutin. Selain itu, kita juga memasang sejumlah sistem seperti closure dike untuk menahan sedimen sebelum masuk ke waduk. Ada beberapa metode yang kita lakukan agar usia layanan bendungan bisa terus bertambah,” jelas Dody.
Sejauh ini, tiga unit closure dike telah dibangun untuk menahan material sedimen dari aliran Sungai Keduang agar tidak masuk ke waduk. Upaya ini dinilai efektif dalam mengurangi risiko pendangkalan yang dapat mengganggu kapasitas tampung air.
Tak hanya itu, langkah konservasi di wilayah hulu juga terus digencarkan. Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Kementerian PU bersama masyarakat melakukan penanaman pohon guna memperbaiki kondisi daerah tangkapan air. Dody menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Hulu yang rusak menjadi salah satu penyebab utama sedimentasi. Karena itu, kita ajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan penghijauan agar yang masuk ke waduk lebih banyak air dibandingkan sedimen,” tuturnya.
Sebagai langkah tambahan, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan jika diperlukan, serta memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Kementerian Pertanian. Sinergi ini bertujuan menjaga produktivitas pertanian nasional di tengah ancaman kemarau panjang.
Dengan pengelolaan yang terintegrasi, pemerintah optimistis Waduk Gajah Mungkur akan tetap berfungsi optimal dalam mendukung ketersediaan air dan ketahanan pangan nasional, meski dihadapkan pada tantangan perubahan iklim dan musim kering yang lebih ekstrem.(*/Stephany)

