Friday, January 16, 2026
HomeIbu dan AnakBagaimana Cara Menumbuhkan Rasa Syukur pada Anak di Era Serba Instan?

Bagaimana Cara Menumbuhkan Rasa Syukur pada Anak di Era Serba Instan?

MEDIAAKU.COM – Mengajarkan anak untuk bersyukur bukan sekadar mengajarkan mereka mengucapkan “terima kasih”, melainkan menanamkan cara pandang yang membuat mereka menyadari bahwa hidup ini penuh dengan kebaikan dan karunia  besar maupun kecil.

Rasa syukur membantu anak melihat bahwa banyak hal di sekitar mereka yang patut dihargai: keluarga, teman, makanan, bahkan udara dan sinar matahari.

Menurut psikolog dari Johns Hopkins All Children’s Hospital, rasa syukur bukan hanya soal ucapan, tapi tentang menghargai setiap berkah dalam hidup, serta menunjukkan apresiasi dan kebaikan terhadap orang lain. 

Bila kita ingin anak melakukannya, maka orang tua harus menjadi teladan, dengan secara rutin mengungkapkan rasa terima kasih dalam kehidupan sehari-hari, anak akan belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar.

Waktu yang baik untuk mengenalkan  dalam aktivitas harian yang sederhana: misalnya sebelum makan, setelah dibantu teman, atau ketika memperoleh sesuatu sekecil apa pun. Dengan menanyakan pada anak: “Apa yang kamu syukuri hari ini?” atau “Siapa yang telah menolongmu?” disini mereka belajar mengenali dan menghargai kebaikan, bukan hanya menerima secara pasif.

Lebih dari sekadar kesopanan sosial, rasa syukur memiliki manfaat mendalam bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Anak yang rutin dilatih bersyukur cenderung memiliki empati lebih besar, rasa cukup, serta kemampuan untuk menghargai orang lain. Mereka akan tumbuh dengan rasa bahagia, rendah hati, dan mampu bersosialisasi lebih baik.

Penting juga mengenalkan bahwa bersyukur bukan hanya saat segala sesuatu berjalan mulus. Bahkan saat menghadapi kesulitan, membantu anak menemukan hal kecil yang tetap layak disyukuri  misalnya kesehatan, keluarga yang menyayangi, atau pelajaran yang bisa diambil  justru membantu membentuk ketahanan mental dan kepekaan terhadap kehidupan.

Dengan kebiasaan seperti itu, syukur menjadi bagian alami dari cara pandang anak terhadap dunia. Mereka tidak lagi mudah merasa kurang atau iri, tapi belajar menikmati dan menghargai apa yang sudah dimiliki.

Mengajarkan syukur pada anak berarti membimbing mereka agar tumbuh menjadi manusia yang peka, penuh rasa terima kasih, dan mampu menghargai hidup.

Syukur bukan hanya ucapan, melainkan sikap  cara untuk melihat banyak berkah dalam keseharian, sekecil apapun, dan menghargainya dengan tulus. Dengan demikian, jiwa anak menjadi lembut, bahagia, dan bijak dalam menjalani hidup.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular