Saturday, January 3, 2026
HomeSejarah & BudayaBagaimana Socrates Mengubah Cara Kita Berpikir? Jejak Filsafat yang Hilang

Bagaimana Socrates Mengubah Cara Kita Berpikir? Jejak Filsafat yang Hilang

MEDIAAKU.COM – Socrates adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah filsafat Barat. Ia lahir di Athena pada sekitar tahun 469 SM dan hidup pada masa ketika kota itu sedang berkembang sebagai pusat pemikiran.

Meski sangat terkenal, Socrates tidak pernah menulis buku. Semua pemikiran dan kisah hidupnya kita kenal melalui murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon. Karena itu, Socrates sering disebut sebagai “filsuf misterius”, sebab gambaran tentang dirinya selalu melalui sudut pandang orang lain.

Menurut Plato, terutama dalam buku “Apology”, Socrates dikenal sebagai orang yang gemar bertanya untuk menguji keyakinan seseorang. Cara bertanya ini kemudian dikenal sebagai Metode Socrates: sebuah teknik berdialog yang menggali kebenaran dengan menantang asumsi dan mendorong orang untuk berpikir kritis.

Melalui dialog, Socrates ingin menunjukkan bahwa kebijaksanaan dimulai dari kesadaran bahwa kita sebenarnya “tidak tahu apa-apa”.Xenophon, dalam karyanya “Memorabilia”, menggambarkan Socrates sebagai sosok yang sederhana dan sangat peduli pada moralitas.

Ia tidak tertarik pada kekayaan atau jabatan; yang ia kejar hanyalah kebaikan dan keutamaan. Bagi Socrates, manusia yang baik adalah manusia yang mengenal dirinya sendiri. Pesannya yang paling terkenal, “Kenalilah dirimu”, menjadi dasar etika hingga hari ini.

Selain dua murid ini, sejarawan seperti Diogenes Laertius dalam buku “Lives and Opinions of Eminent Philosophers” juga menuliskan berbagai kisah tentang Socrates, termasuk gaya hidup asketis dan keberaniannya mengkritik masyarakat Athena.

Ia sering berbicara di tempat umum, menantang pandangan yang dianggap benar oleh banyak orang. Sikapnya yang kritis inilah yang kemudian membuatnya dianggap berbahaya oleh pihak berkuasa.

Pada tahun 399 SM, Socrates diadili dengan tuduhan “merusak moral pemuda” dan “tidak menghormati dewa-dewa kota”. Dalam dialog Apology, Plato menggambarkan bagaimana Socrates membela diri dengan tenang dan jujur. Alih-alih meminta belas kasihan, ia tetap berpegang pada prinsipnya bahwa ia hanya ingin mendorong masyarakat berpikir lebih baik.

Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman mati dengan cara meminum racun hemlock. Socrates menerimanya tanpa melarikan diri, karena ia percaya bahwa menaati hukum negara merupakan bentuk keadilan.

Kematian Socrates bukanlah akhir, melainkan awal munculnya berbagai aliran filsafat besar. Plato mengembangkan idealisme, sementara murid Plato, Aristoteles, membangun fondasi logika dan etika yang masih dipakai sampai sekarang.

Banyak ahli modern, seperti Anthony Gottlieb dalam buku “The Dream of Reason”, menilai bahwa Socrates adalah titik awal tradisi berpikir kritis di Barat. Tanpa Socrates, sejarah filsafat mungkin tidak akan berkembang seperti hari ini.

Dari perjalanan hidupnya, pesan yang dapat dipetik adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan menjadi manusia jujur meski harus menghadapi risiko. Socrates menunjukkan bahwa kebijaksanaan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi tentang kejujuran kepada diri sendiri, kesediaan bertanya, dan keberanian mempertahankan nilai moral. Ia mengajarkan bahwa hidup yang tidak pernah direnungkan adalah hidup yang sia-sia.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular