MEDIAAKU.COM – Sindrom Rubella Bawaan (Congenital Rubella Syndrome/CRS) adalah kondisi yang muncul ketika bayi terinfeksi virus rubella sejak dalam kandungan. Penyakit ini pertama kali digambarkan secara jelas oleh seorang dokter bernama Norman McAlister Gregg, seorang oftalmolog asal Australia.
Pada tahun 1941, Gregg mengamati banyak bayi yang lahir dengan katarak setelah ibunya mengalami rubella selama kehamilan. Temuan inilah yang menjadikan Gregg dianggap sebagai penemu hubungan antara infeksi rubella pada ibu dengan cacat bawaan pada bayi.
Rubella sendiri adalah infeksi virus yang biasanya ringan pada anak maupun orang dewasa. Namun, ketika menyerang ibu hamil terutama pada trimester pertama, virus ini dapat menembus plasenta dan mengganggu perkembangan organ janin.
Menurut buku “Vaccines” karya Stanley A. Plotkin, Walter A. Orenstein, dan Paul A. Offit, virus rubella dapat menyebabkan kelainan pada mata, telinga, jantung, serta perkembangan saraf pusat.Buku ini juga menjelaskan bahwa risiko terjadinya CRS bisa mencapai lebih dari 80% jika infeksi terjadi pada awal kehamilan.
Bayi yang terkena sindrom rubella bawaan dapat mengalami beberapa gangguan, seperti katarak, tuli sensorineural, kelainan jantung bawaan, ukuran kepala kecil, keterlambatan tumbuh kembang, atau bercak kebiruan pada kulit.
Walaupun gejalanya berbeda-beda pada setiap bayi, gangguan pendengaran adalah salah satu masalah yang paling sering ditemukan.Penting untuk dipahami bahwa hingga kini tidak ada obat khusus yang dapat menghilangkan virus rubella setelah bayi terinfeksi di dalam rahim.
Penanganan yang diberikan hanya bertujuan mengatasi gejala, misalnya operasi katarak, alat bantu dengar, atau terapi perkembangan. Karena itu, para ahli menekankan bahwa pencegahan adalah langkah paling efektif.
Vaksin rubella biasanya diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi MMR (measles, mumps, rubella) yang telah terbukti sangat aman dan efektif. Stanley Plotkin, seorang ahli vaksin terkemuka, menyebut vaksin rubella sebagai salah satu keberhasilan terbesar kesehatan masyarakat karena mampu menekan angka CRS secara drastis di banyak negara.
Walaupun vaksin rubella sudah tersedia sejak lama, kasus CRS masih dapat muncul terutama jika cakupan vaksinasi rendah atau jika calon ibu tidak mengetahui status imunisasinya. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah atau sebelum merencanakan kehamilan sangat dianjurkan.
Tindakan kecil seperti vaksinasi dapat membawa dampak besar bagi masa depan seorang anak. CRS bukan hanya tentang penyakit, tetapi tentang bagaimana keputusan kesehatan pada hari ini memengaruhi kualitas hidup generasi berikutnya.
Menjaga kesehatan diri, memeriksakan status imunisasi, dan memberi perhatian pada pencegahan adalah bentuk tanggung jawab yang tidak hanya melindungi ibu hamil, tetapi juga melindungi bayi yang belum bisa menjaga dirinya sendiri.(*/janu)

