MEDIAAKU.COM – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan ambisi Indonesia untuk mempercepat kemandirian teknologi antariksa, salah satunya melalui penguatan peran Bandar Antariksa Biak sebagai fasilitas peluncuran nasional.
Ia menyebut Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk melakukan peluncuran roket dan satelit secara mandiri, asalkan koordinasi antar kementerian dan lembaga dapat berjalan efektif.
Melansir CNN Indonesia, Senin (5/1/2026) Pengembangan bandar antariksa sendiri telah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017–2040 yang memuat arah dan visi jangka panjang pembangunan antariksa Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman, dokumen tersebut dinilai perlu disesuaikan.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menyampaikan bahwa evaluasi Renduk dilakukan setiap lima tahun, dan saat ini sejumlah target serta strategi perlu diperbarui agar lebih relevan dan realistis dengan kondisi terkini.
BRIN menilai langkah percepatan harus dilakukan secara terukur namun tetap progresif agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global. Hal ini sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi antariksa dunia serta meningkatnya kebutuhan nasional terhadap satelit, roket, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Dalam berbagai pertemuan, kesiapan sarana pendukung peluncuran roket dan satelit juga menjadi perhatian. Fasilitas tersebut tengah dipersiapkan secara bertahap melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga.
Salah satu prioritas utama adalah optimalisasi Bandar Antariksa Biak yang diproyeksikan menjadi pusat peluncuran nasional sekaligus titik strategis kerja sama internasional di masa depan.
Arif menekankan bahwa percepatan pengembangan antariksa tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik. Menurutnya, tata kelola yang jelas, pembagian peran yang tegas, serta koordinasi antarunit merupakan kunci agar program strategis dapat berjalan efektif dan efisien tanpa tumpang tindih kewenangan.
Pembahasan terkait kelembagaan keantariksaan masih terus dilakukan bersama Kementerian PAN-RB dan instansi terkait. Meski demikian, Arif menegaskan bahwa efektivitas fungsi jauh lebih penting dibandingkan sekadar bentuk organisasi. Yang terpenting adalah sistem keantariksaan mampu berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan di bidang antariksa hanya dapat diraih melalui komitmen dan kerja keras yang konsisten. Untuk itu, para periset didorong meningkatkan intensitas serta kualitas riset, termasuk memanfaatkan peluang hibah riset internasional.
BRIN pun terus menyempurnakan mekanisme pendanaan dan penghargaan riset guna mendukung publikasi ilmiah serta pengembangan teknologi strategis nasional.(*/Stephany)

