Tuesday, January 27, 2026
HomeBeritaCuaca Ekstrem Jadi Tantangan Pertanian, Strategi Tanam Adaptif Kian Diperkuat

Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Pertanian, Strategi Tanam Adaptif Kian Diperkuat

MEDIAAKU.COM – Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya intensitas hujan ekstrem dan potensi banjir kini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian nasional, khususnya dalam menjaga keberlanjutan produksi padi. Kondisi ini menuntut penerapan langkah-langkah adaptif dan terencana guna menekan risiko gagal panen yang kian mengancam.

‎Melansir laman Kementan, Selasa (27/1/2026) Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menyoroti dampak serius cuaca ekstrem terhadap produktivitas pertanian. Menurutnya, ketidakpastian musim tanam, kekeringan, hingga banjir dapat mengganggu siklus produksi dan meningkatkan risiko kerugian petani.

‎Ia menegaskan bahwa mitigasi risiko harus menjadi prioritas agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika iklim yang tidak menentu.

‎Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa fenomena iklim ekstrem berdampak langsung pada peningkatan potensi gagal panen. Perubahan pola curah hujan, fluktuasi suhu, serta cuaca ekstrem yang sulit diprediksi menjadi ancaman nyata bagi pertanian Indonesia.

‎Oleh karena itu, sesuai arahan Menteri Pertanian, penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian dinilai penting agar petani dan penyuluh mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

‎Sebagai upaya peningkatan literasi iklim dan penguatan kapasitas tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menyelenggarakan Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 dengan tema “Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi” belum lama ini.

‎Forum ini menjadi ruang diskusi dan pembelajaran bagi penyuluh, petani, serta generasi muda pertanian dalam menghadapi risiko cuaca ekstrem.

‎Kegiatan berbentuk webinar ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, penyuluh pertanian, dan petani dari berbagai wilayah. Melalui forum tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan strategi tanam berbasis iklim secara tepat di lapangan guna meminimalkan dampak hujan lebat dan banjir terhadap produksi pangan.

‎Untuk memperkaya wawasan, forum menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, antara lain Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Papua Prof. Dr. Antonius Suparno, M.P., Pengamat Meteorologi dan Geofisika Fadri Prasetya, S.Tr., Met., serta Sekretaris Brigade Pangan Sejahtera 1, Feri Irawan.

‎Prof. Antonius menekankan pentingnya pemahaman ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam strategi tanam. Menurutnya, pemanfaatan data cuaca dan prakiraan iklim menjadi kunci utama dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim yang kini telah dirasakan secara nyata.

‎Sementara itu, Fadri Prasetya menjelaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim harus dilakukan secara menyeluruh. Langkah-langkah tersebut meliputi pembangunan infrastruktur pengendali banjir, normalisasi aliran sungai, penerapan sistem peringatan dini, serta pendekatan adaptasi berbasis alam.

‎Ia menilai perubahan iklim sebagai faktor pengganda risiko, sehingga kesiapsiagaan dan perubahan perilaku manusia terhadap lingkungan menjadi investasi penting bagi keberlanjutan pertanian di masa depan.

‎Menurutnya, swasembada pangan harus diwujudkan secara berkelanjutan. Tantangan banjir dan iklim ekstrem tidak boleh menghentikan produksi, karena optimalisasi potensi lahan di wilayah lain dapat menjadi solusi agar produktivitas nasional tetap terjaga.(*/Stephany)

RELATED ARTICLES

Terpopular