MEDIAAKU.COM – Bubur merah dan putih merupakan salah satu hidangan tradisional yang sangat lekat dengan upacara kelahiran dalam budaya Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia.
Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi memiliki makna simbolis yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang.Tradisi menyajikan bubur merah dan putih biasanya dilakukan dalam selamatan kelahiran, seperti acara brokohan, sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya seorang anak.Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan Jawa”, bubur merah dan putih termasuk bagian dari simbol ritual yang berfungsi sebagai media doa dan harapan.
Warna putih pada bubur melambangkan kesucian, ketulusan, dan niat baik orang tua terhadap kehidupan anak yang baru lahir.Bubur putih biasanya terbuat dari beras yang dimasak sederhana, menggambarkan awal kehidupan yang bersih dan polos.Sementara itu, bubur merah yang berasal dari campuran gula merah melambangkan keberanian, kekuatan, dan kehidupan yang penuh dinamika.
Ahli antropologi Clifford Geertz dalam “The Religion of Java” menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sangat menekankan keseimbangan dalam hidup.Bubur merah dan putih mencerminkan konsep keseimbangan tersebut, yaitu keseimbangan antara unsur jasmani dan rohani, antara suka dan duka, serta antara kekuatan dan kesucian.
Kelahiran seorang anak dipandang sebagai peristiwa sakral yang harus disambut dengan doa agar anak kelak mampu menjalani kehidupan secara seimbang.Selain itu, bubur merah dan putih juga memiliki makna sosial. Hidangan ini biasanya dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai bentuk berbagi kebahagiaan.
Hal ini mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang kuat dalam masyarakat tradisional Indonesia.Dengan berbagi bubur, orang tua tidak hanya bersyukur kepada Tuhan, tetapi juga menjalin hubungan sosial yang harmonis dengan lingkungan sekitar.
Seiring perkembangan zaman, tradisi bubur merah dan putih mulai jarang dilakukan, terutama di perkotaan.Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan. Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap awal kehidupan patut disambut dengan rasa syukur, doa, dan kebersamaan.
Kelahiran bukan hanya peristiwa biologis, tetapi juga peristiwa sosial dan spiritual yang mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur, berbagi, dan berharap kebaikan bagi generasi penerus.(*/janu)

