MEDIAAKU.COM – Dalam sejarah Tiongkok, gaya rambut pria bukan sekadar urusan penampilan, melainkan cerminan nilai moral, filosofi, dan kekuasaan politik. Pada masa kuno, pria Tiongkok memanjangkan rambut mereka sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.Ajaran Konfusius menekankan bahwa tubuh, termasuk rambut dan kulit, adalah warisan dari orang tua yang tidak boleh dirusak.
Dalam kitab klasik Xiaojing (Kitab Bakti), disebutkan bahwa menjaga tubuh tetap utuh adalah wujud bakti seorang anak.Pada era kekaisaran awal seperti Dinasti Han, rambut panjang biasanya diikat dan disanggul di atas kepala.
Gaya ini melambangkan kedewasaan dan tanggung jawab sosial. Namun, perubahan besar terjadi ketika Dinasti Qing berkuasa pada abad ke-17. Penguasa Manchu mewajibkan pria Han mencukur bagian depan kepala dan mengepang sisa rambut di belakang, gaya yang dikenal sebagai “queue.” Kebijakan ini bukan sekadar tren, melainkan simbol kesetiaan politik kepada kaisar Qing.
Sejarawan seperti Jonathan D. Spence dalam bukunya “The Search for Modern China” menjelaskan bahwa perintah penggunaan queue menjadi alat kontrol sosial,artinya, menolak gaya rambut tersebut dianggap sebagai pemberontakan yang bisa berujung hukuman mati.
Rambut berubah menjadi penanda identitas politik dan alat legitimasi kekuasaan.Antropolog juga melihat praktik ini sebagai contoh bagaimana tubuh manusia sering dijadikan medium simbolik negara. Rambut panjang yang awalnya melambangkan bakti dan kehormatan berubah makna menjadi simbol penundukan dan loyalitas.
Ketika Dinasti Qing runtuh pada 1911, banyak pria memotong kepangan mereka sebagai tanda kebebasan dan lahirnya era baru.Dari sejarah ini, kita belajar bahwa identitas budaya dapat dipengaruhi oleh kekuasaan, namun nilai dasar seperti penghormatan dan bakti tetap memiliki akar yang kuat. Penampilan luar bisa berubah mengikuti zaman, tetapi jati diri dan prinsip moral seharusnya tetap menjadi pegangan dalam menghadapi perubahan sosial.(*/janu)

