MEDIAAKU.COM – Diet ketat sering dipahami sebagai cara cepat menurunkan berat badan dengan membatasi makan secara ekstrem atau memotong jenis makanan tertentu secara berlebihan.
Di kalangan remaja, tekanan sosial, media sosial, dan keinginan untuk “tampil ideal” sering mendorong percobaan diet ketat. Padahal, bagi tubuh yang masih tumbuh dan otak yang masih berkembang, diet seperti ini bisa membawa risiko serius,baik secara fisik maupun psikologis.
Remaja adalah masa perubahan cepat. Tubuh membutuhkan energi dan nutrisi untuk pertumbuhan tulang, otot, otak, dan kestabilan hormon. Ketika asupan makanan dibatasi secara ekstrem, kebutuhan ini tidak terpenuhi.
Ahli nutrisi dan profesor kesehatan remaja sering mengingatkan bahwa defisit nutrisi dapat menyebabkan kelelahan yang berlebihan, gangguan tidur, menstruasi tidak teratur pada perempuan, hingga penurunan massa otot. Efek seperti ini bukan sekadar “lelah biasa”,jika dibiarkan berulang dapat mengganggu perkembangan normal tubuh dan meningkatkan risiko gangguan metabolik di masa depan.
Selain itu, diet ketat dapat memicu gangguan makan. Psikolog klinis menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai membatasi makanan secara ekstrem, ada kecenderungan untuk menjadi terobsesi terhadap angka pada timbangan dan kontrol makanan.
Obsesinya bisa berkembang menjadi pola pikir seperti “makanan ini baik, makanan itu buruk”, yang lama-kelamaan dapat berubah menjadi gangguan makan yang serius seperti anoreksia atau bulimia nervosa.
Gangguan makan ini tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada suasana hati, konsentrasi belajar, hubungan sosial, dan citra diri.Buku “Intuitive Eating” oleh Evelyn Tribole dan Elyse Resch mengajarkan pendekatan yang berbeda: memperhatikan sinyal lapar dan kenyang tubuh, serta menghormati kebutuhan diri sendiri. Alih-alih membatasi secara ketat, pendekatan seperti ini membantu remaja belajar membangun hubungan sehat dengan makanan.
Pakar gizi seperti Linda Bacon dalam “Health at Every Size” juga menekankan pentingnya fokus pada kesehatan keseluruhan daripada angka tubuh semata.Diet ketat tidak hanya berbahaya karena pengaruh fisiknya, tetapi juga karena dapat menanamkan pola pikir negatif tentang tubuh.
Remaja yang sering mengupayakan penurunan berat badan secara ekstrem cenderung merasa tidak puas dengan tubuh mereka, yang dapat mengurangi rasa percaya diri.Padahal, masa remaja adalah waktu penting untuk mengembangkan harga diri yang sehat, menghargai kebutuhan tubuh, dan memahami bahwa variasi tubuh adalah hal yang normal.
Sebagai gantinya, pakar mendorong pendekatan seimbang terhadap pola makan yang mencakup berbagai nutrisi,karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Aktivitas fisik sebaiknya dilihat sebagai cara meningkatkan kesehatan dan kebugaran, bukan sebagai hukuman untuk kalori yang masuk.
Setiap remaja memiliki bentuk tubuh yang unik dan sedang bertumbuh. Merawat tubuh dengan bijak, bukan menyiksanya dengan diet ketat, adalah bentuk menghargai diri sendiri dan investasi untuk masa depan yang lebih sehat.(*/janu)

