MEDIAAKU.COM – Kawasan Harajuku di Tokyo mencerminkan perjalanan budaya, gaya, dan ekspresi diri yang unik. Sejarah Harajuku dimulai setelah Perang Dunia II, ketika kawasan di dekat Stasiun JR Harajuku diduduki oleh pasukan Amerika Serikat.
Harajuku mulai dipengaruhi oleh kehadiran militer Amerika Serikat serta pertukaran budaya antara Jepang dan Barat. Seiring tahun 1970-an, Harajuku mulai menarik perhatian kaum muda sebagai “kampung mode” di mana kreativitas bebas muncul.
Dalam buku “foto 70’ Harajuku” oleh Non Nakamura, digambarkan bagaimana anak-muda kala itu dengan penuh semangat mengeksplorasi gaya berpakaian tanpa sponsor besar, hanya dengan dorongan dari keinginan mereka sendiri.
Di era 1990-an hingga awal 2000-an, Harajuku benar-benar melejit sebagai pusat subkultur fashion.Subkultur seperti Lolita, Decora, Visual Kei tumbuh dan memberikan ruang baru bagi anak muda untuk mengekspresikan identitas mereka.
Ahli budaya seperti Megan Catherine Rose dikutip dalam artikel tentang “kawaii culture” menyatakan bahwa Harajuku adalah cerminan dari “spirit punk” Jepang yaitu keinginan untuk berbeda, untuk mencipta, dan menggunakan mode sebagai pernyataan diri.
Dari Harajuku kita dapat melihat bahwa kreativitas sering muncul dari ruang yang tidak terlalu dikontrol secara ketat. Harajuku berkembang karena anak-muda merasa bebas bereksperimen dimana budaya lokal dan pengaruh global bisa bertemu dan menciptakan sesuatu yang baru, asalkan saling menghormati dan tidak hanya menjiplak.
Ketika kita menghargai keberagaman gaya dan ide, kita tidak hanya merayakan mode, melainkan juga menghormati manusia yang di balik mode itu.(*/janu)

