Wednesday, February 11, 2026
HomeTeknologiIndonesia Resmi Luncurkan GHES 2026, Hidrogen Jadi Pilar Transisi Energi

Indonesia Resmi Luncurkan GHES 2026, Hidrogen Jadi Pilar Transisi Energi

MEDIAAKU.COM – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan keseriusannya dalam mendorong transisi energi nasional. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot secara resmi meluncurkan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 belum lama ini. Forum internasional ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran hidrogen sebagai solusi energi masa depan yang rendah emisi karbon.

‎Melansir laman KemenESDM, Rabu (11/2/2026) Dalam sambutannya, Yuliot menekankan bahwa hidrogen memiliki posisi penting dalam peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan. Selain listrik, hidrogen dinilai sebagai pembawa energi nol karbon yang berpotensi besar mendukung upaya dekarbonisasi.

‎Pemerintah, kata Yuliot, terus berkomitmen untuk menekan dampak perubahan iklim. Salah satu target jangka panjang yang dicanangkan adalah mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil secara bertahap demi mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau bahkan lebih cepat. Untuk mendukung target tersebut, hidrogen dan amonia telah ditetapkan sebagai bagian dari Sumber Energi Baru (SEB).

‎Saat ini, pemanfaatan hidrogen di Indonesia masih didominasi oleh sektor industri. Yuliot mengungkapkan konsumsi hidrogen nasional mencapai sekitar 1,75 juta ton per tahun, dengan penggunaan terbesar sebagai bahan baku urea sebesar 88 persen, diikuti amonia 4 persen, dan kilang minyak sekitar 2 persen.

‎Lebih lanjut, hidrogen juga diproyeksikan berperan besar dalam sektor-sektor dengan tingkat emisi tinggi yang sulit ditekan, seperti transportasi jarak jauh, pelayaran, penerbangan, industri baja, serta proses pemanasan di sektor manufaktur dan industri berat.

‎Menurut Yuliot, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan hidrogen dan amonia sebagai bagian penting dari agenda transisi energi nasional sekaligus berkontribusi pada dekarbonisasi sistem energi global. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan secara masif.

‎Potensi tersebut didukung oleh berbagai keunggulan, mulai dari ketersediaan sumber energi terbarukan yang melimpah, komitmen terhadap mitigasi perubahan iklim global, hingga posisi geografis Indonesia yang strategis di jalur perdagangan internasional. Dengan modal tersebut, Indonesia dinilai berpeluang menjadi pusat pengembangan hidrogen dan amonia di kawasan Asia Pasifik.

‎Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa Kementerian ESDM telah menyiapkan National Hydrogen Roadmap yang disusun selaras dengan rencana aksi serta komitmen industri.

Eniya menambahkan, pada 2026 indikator kinerja utama (KPI) EBTKE akan bertambah, yakni pencapaian produksi hidrogen hijau. Pemerintah menargetkan produksi hidrogen hijau dapat meningkat hingga melampaui 199 ton per tahun sesuai dengan rencana umum energi nasional.

‎Melalui peluncuran GHES 2026, pemerintah berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat adopsi hidrogen hijau sekaligus mendorong percepatan transisi energi di Indonesia.(*/Stephany)

RELATED ARTICLES

Terpopular