MEDIAAKU.COM – Anak sensitif adalah anak yang memiliki kepekaan emosi dan perasaan yang lebih tinggi dibandingkan anak pada umumnya.
Mereka mudah merasakan perubahan suasana, cepat menangkap emosi orang lain, dan sering bereaksi lebih kuat terhadap lingkungan sekitar. Sensitivitas ini bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari keunikan kepribadian anak yang perlu dipahami dengan tepat oleh orang tua dan pendidik.
Menurut Elaine N. Aron dalam bukunya “The Highly Sensitive Child”, anak sensitif memiliki sistem saraf yang bekerja lebih mendalam. Mereka memproses informasi dengan lebih teliti, sehingga mudah merasa kewalahan oleh suara keras, tekanan sosial, atau kritik.
Tantangan yang sering dihadapi anak sensitif adalah mereka mudah merasa cemas, tersinggung, atau sedih. Dalam lingkungan yang kurang mendukung, anak sensitif bisa dianggap terlalu manja, lemah, atau sulit diatur, padahal sebenarnya mereka hanya membutuhkan pendekatan yang lebih lembut dan penuh pengertian.
Di sekolah, anak sensitif mungkin mengalami kesulitan saat menghadapi persaingan, hukuman, atau teguran keras. Tekanan akademik dan sosial dapat membuat mereka cepat lelah secara emosional.
Jika tidak didampingi dengan baik, anak sensitif berisiko menarik diri, kehilangan rasa percaya diri, atau merasa tidak diterima. Oleh karena itu, dukungan emosional dan komunikasi yang hangat sangat dibutuhkan agar mereka merasa aman dan dihargai.
Di balik tantangannya, anak sensitif memiliki banyak kelebihan. Mereka umumnya empatik, peduli terhadap perasaan orang lain, dan memiliki hati yang lembut. Menurut Hurlock dalam “Psikologi Perkembangan”, anak dengan kepekaan emosi tinggi cenderung memiliki kemampuan sosial dan moral yang baik jika dibimbing dengan tepat.
Anak sensitif juga sering kreatif, imajinatif, dan mampu berpikir mendalam. Mereka dapat menjadi pendengar yang baik, serta individu yang penuh perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Mereka bukan anak yang lemah, melainkan anak yang kuat dengan caranya sendiri. Sensitivitas adalah anugerah jika dipahami dan diarahkan dengan benar. Orang dewasa perlu belajar menerima perbedaan karakter anak dan tidak memaksakan standar yang sama pada semua anak.
Dengan kasih sayang, kesabaran, dan dukungan yang tepat, anak sensitif dapat tumbuh menjadi pribadi yang empatik, bijaksana, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.(*/janu)

