MEDIAAKU.COM – Akupunktur adalah salah satu praktik pengobatan tertua di dunia yang berasal dari Tiongkok. Banyak ahli sejarah kesehatan berpendapat bahwa teknik ini mulai berkembang sejak lebih dari dua ribu tahun lalu.
Dalam buku klasik Tiongkok “Huangdi Neijing” atau “The Yellow Emperor’s Classic of Internal Medicine”, yang sering disebut sebagai teks dasar pengobatan tradisional Tiongkok, digambarkan bahwa tubuh manusia memiliki jalur energi yang disebut meridian.
Dalam pandangan tersebut, penyakit muncul ketika aliran energi atau “qi” tidak seimbang. Gagasan ini kemudian menjadi fondasi dari akupunktur, yaitu memasukkan jarum halus pada titik tertentu untuk mengembalikan keseimbangan tubuh.
Beberapa sejarawan pengobatan, seperti Paul Unschuld, seorang ahli sinologi dan profesor yang meneliti teks medis Tiongkok, menyatakan bahwa akupunktur berkembang tidak hanya sebagai teknik fisik, tetapi juga sebagai sistem pemikiran yang erat kaitannya dengan filsafat Taoisme.
Menurut Unschuld, yang menulis “Medicine in China: A History of Ideas”, akupunktur lahir sebagai upaya masyarakat kuno memahami keterhubungan antara tubuh manusia dan alam. Ia menekankan bahwa keberhasilan akupunktur pada masa awal lebih banyak terkait pengamatan pengalaman daripada konsep ilmiah seperti yang kita kenal sekarang.
Dalam perkembangannya, akupunktur kemudian menyebar ke Jepang, Korea, dan negara-negara Asia lainnya. Setiap wilayah menambahkan variasi teknik yang membuat akupunktur lebih kaya. Misalnya, akupunktur Jepang cenderung menggunakan jarum yang lebih tipis dan teknik penusukan yang lebih lembut.
Penyebaran ke Barat mulai meningkat pada abad ke-17 ketika misionaris dan dokter Eropa membawa pulang laporan tentang metode pengobatan Timur.
Namun, akupunktur baru benar-benar mendapat perhatian besar setelah Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, berkunjung ke Tiongkok pada tahun 1972. Liputan media tentang anestesi akupunktur pada saat itu membuat dunia Barat semakin tertarik untuk mempelajarinya.
Dalam dunia akademik modern, para peneliti seperti Dr. Helene M. Langevin, direktur Osher Center for Integrative Medicine di Harvard Medical School, mencoba memahami akupunktur dari sudut pandang biomedis.
Langevin mengemukakan bahwa efek akupunktur mungkin berhubungan dengan jaringan ikat dan sistem saraf. Penelitian-penelitiannya menunjukkan bagaimana stimulasi jarum dapat memicu respons biologis yang memengaruhi rasa nyeri dan fungsi tubuh tertentu. Pandangan ini membuat akupunktur diterima lebih luas sebagai terapi komplementer di berbagai negara.
Akupunktur tidak sekadar teknik memasukkan jarum, tetapi sebuah cara melihat kesehatan secara holistik, yaitu memandang tubuh, pikiran, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.Dari perjalanan sejarahnya, akupunktur mengajarkan bahwa pengetahuan manusia terus berkembang dari pengalaman panjang sebuah budaya.
Akupunktur bukan hanya warisan budaya, tetapi bukti bahwa manusia selalu mencari cara untuk sembuh, memahami diri, dan menjaga keseimbangan hidup.(*/janu)

