Saturday, January 17, 2026
HomeIbu dan AnakMengapa Emosi Ibu Mudah Meledak Saat Anak Tantrum, dan Bagaimana Mengendalikannya?

Mengapa Emosi Ibu Mudah Meledak Saat Anak Tantrum, dan Bagaimana Mengendalikannya?

MEDIAAKU.COM – Tantrum adalah bagian alami dari perkembangan anak, terutama pada usia dua hingga lima tahun. Pada masa ini, anak belum mampu mengungkapkan perasaan dan kebutuhan secara jelas, sehingga ledakan emosi sering muncul dalam bentuk menangis keras, berguling, atau berteriak.

Bagi seorang ibu, menghadapi tantrum bisa menjadi pengalaman yang melelahkan secara fisik maupun emosional. Karena itu, kemampuan mengelola emosi sangat penting agar ibu tetap tenang dan mampu merespons anak dengan cara yang sehat.

Menurut Daniel Goleman dalam “Emotional Intelligence (1995)”, kemampuan mengendalikan emosi adalah keterampilan dasar yang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dan berinteraksi, termasuk dalam pengasuhan.

Ketika ibu mampu mengenali emosinya sendiri apakah sedang lelah, marah, atau cemas maka ia lebih mudah mengatur reaksi agar tidak terbawa suasana. Kesadaran diri ini menjadi langkah pertama untuk tetap tenang di situasi sulit.

Anak belum memiliki keterampilan mengatur diri, sehingga ia membutuhkan orang dewasa yang stabil secara emosi. Ketika ibu membalas tantrum dengan kemarahan, situasi justru semakin memanas. Namun ketika ibu merespons dengan suara lembut dan sikap tenang, anak akan merasa aman dan lebih cepat tenang.

Mengelola emosi tidak berarti ibu harus selalu tampak sempurna. Ada kalanya ibu merasa sangat kesal atau stres. Dalam kondisi seperti itu, mengambil jeda sejenak adalah langkah yang bijak. Menarik napas dalam-dalam selama beberapa detik, minum air, atau menjauh sebentar dapat membantu menurunkan ketegangan.

Setelah lebih tenang, ibu dapat kembali mendampingi anak dan membantunya mengekspresikan perasaan. Dengan cara ini, ibu mengajarkan regulasi emosi melalui contoh nyata, bukan hanya kata-kata.

Ketika tantrum mereda, ibu dapat mengajak anak berbicara tentang apa yang terjadi. Komunikasi sederhana tanpa menyalahkan akan membantu anak memahami emosinya dan belajar cara yang lebih baik untuk mengekspresikannya di masa depan. Pengalaman berulang akan membuat anak semakin matang dalam mengelola diri.

Ketenangan seorang ibu adalah hadiah terbesar bagi tumbuh kembang anak. Mengasuh bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus belajar memahami diri dan anak. Ketika ibu mampu menjaga emosinya, anak pun belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman dan penuh kasih.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular