MEDIAAKU.COM – Banyak anak memiliki kebiasaan mengoleksi benda tertentu, seperti mainan, stiker, kartu, buku, atau benda unik lainnyaSekilas, kebiasaan ini tampak sederhana dan sering dianggap hanya sebagai kesenangan semata. Namun, para ahli perkembangan anak menilai bahwa aktivitas mengoleksi memiliki makna penting bagi tumbuh kembang anak, baik dari sisi psikologis maupun sosial.
Saat anak mengoleksi benda, ia sedang melatih kemampuan berpikir logis, mengelompokkan, dan membandingkan. Anak belajar membedakan bentuk, warna, jenis, serta nilai dari setiap benda yang dikoleksinya.Proses ini membantu perkembangan kognitif anak secara alami tanpa tekanan.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Erik Erikson dalam bukunya “Childhood and Society”. Erikson menjelaskan bahwa anak pada usia sekolah berada pada tahap perkembangan industri versus inferioritas, yaitu fase ketika anak ingin merasa mampu dan berprestasi.
Mengoleksi sesuatu dapat memberi rasa bangga dan percaya diri karena anak merasa memiliki pencapaian pribadi. Ketika koleksinya bertambah, anak merasa usahanya berhasil dan dihargai.
Selain aspek kognitif dan emosional, kebiasaan mengoleksi juga berpengaruh pada perkembangan sosial.Hobi dapat menjadi sarana anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Anak yang memiliki koleksi sering berbagi cerita, bertukar benda, atau berdiskusi dengan teman yang memiliki minat sama.Hal ini membantu anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai orang lain.
Namun, peran orang tua tetap sangat penting dalam mendampingi anak yang gemar mengoleksi.Orang tua perlu mengarahkan agar koleksi tidak menjadi sikap berlebihan atau konsumtif. Anak juga perlu diajarkan untuk merawat barang, bersabar, dan tidak memaksakan keinginan.
Dengan bimbingan yang tepat, hobi mengoleksi dapat menjadi kegiatan yang mendidik dan bernilai positif.Hal kecil yang dilakukan dengan penuh ketekunan dapat membentuk karakter yang baik.
Dari hobi ini anak belajar menghargai proses, menjaga tanggung jawab, serta memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari jumlah, tetapi dari makna dan usaha yang menyertainya.(*/janu)

