Wednesday, March 25, 2026
HomeIbu dan AnakMoney Oriented: Tanda Anak Cerdas Finansial atau Krisis Nilai?

Money Oriented: Tanda Anak Cerdas Finansial atau Krisis Nilai?

MEDIAAKU.COM – Money oriented pada anak adalah kondisi ketika anak terlalu berfokus pada uang dan materi sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Anak yang memiliki pola pikir ini cenderung menilai keberhasilan, pertemanan, bahkan kebahagiaan berdasarkan jumlah uang atau barang yang dimiliki.

Dalam batas tertentu, mengenalkan uang sejak dini memang penting. Namun, jika tidak dibimbing dengan tepat, orientasi berlebihan pada uang dapat memengaruhi perkembangan karakter anak.

Menurut David Elkind dalam bukunya  The Hurried Child”, tekanan dunia modern membuat anak tumbuh terlalu cepat dan sering diarahkan pada pencapaian material. Anak bisa merasa bahwa nilai dirinya ditentukan oleh prestasi dan kekayaan, bukan oleh proses belajar dan kebaikan hati.

Faktor penyebab anak menjadi money oriented cukup beragam,antara lain:

1.Pola asuh yang terlalu menekankan hadiah materi sebagai bentuk penghargaan.

2.Pengaruh media sosial yang menampilkan gaya hidup mewah.

3.Lingkungan pergaulan yang mengukur pertemanan dari status ekonomi.

Jika terus dibiarkan, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kompetitif secara tidak sehat, kurang empati, dan mudah merasa tidak puas.Namun, bukan berarti mengenalkan uang pada anak adalah hal yang salah.

Dalam buku “Smart Money Smart Kids” karya Dave Ramsey dan Rachel Cruze, dijelaskan bahwa pendidikan keuangan sejak dini justru penting untuk membangun tanggung jawab. Kuncinya adalah keseimbangan, anak diajarkan cara mengelola uang, menabung, dan berbagi, bukan hanya mengejar kekayaan.

Anak perlu diajarkan bahwa uang adalah alat, bukan tujuan utama hidup. Nilai seperti kerja keras, kejujuran, kepedulian, dan rasa syukur harus ditanamkan bersamaan dengan pendidikan finansial.

Memberi contoh sederhana, seperti berbagi kepada yang membutuhkan atau berdiskusi tentang makna kesuksesan, dapat membantu anak memahami bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari materi.

Pada akhirnya, memiliki cita-cita untuk sukses secara finansial adalah hal yang wajar. Namun, anak perlu memahami bahwa karakter dan kebaikan hati jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular