Sunday, April 12, 2026
HomeSejarah & BudayaOmiyamairi: Tradisi Kuno Jepang yang Penuh Harapan dan Makna

Omiyamairi: Tradisi Kuno Jepang yang Penuh Harapan dan Makna

MEDIAAKU.COM – Omiyamairi adalah tradisi kunjungan pertama bayi ke kuil Shinto di Jepang yang biasanya dilakukan sekitar 30 hingga 100 hari setelah kelahiran. Upacara ini bertujuan memperkenalkan bayi kepada kami (roh pelindung) serta memohon kesehatan dan perlindungan bagi masa depannya.

Meski terlihat sederhana, omiyamairi memiliki akar sejarah panjang yang mencerminkan hubungan erat antara keluarga, agama, dan masyarakat Jepang.Menurut Emiko Ohnuki-Tierney dalam bukunya “Illness and Healing Among the Sakhalin Ainu”, ritual-ritual daur hidup di Jepang, termasuk omiyamairi, menegaskan pentingnya integrasi individu ke dalam tatanan sosial dan spiritual sejak dini.

Bayi tidak hanya dipandang sebagai anggota keluarga, tetapi juga bagian dari komunitas religius yang lebih luas. Dengan membawa bayi ke kuil, keluarga menyatakan rasa syukur sekaligus tanggung jawab atas kehidupan baru tersebut.

Sementara itu, dalam karya “Shinto: The Kami Way”, Sokyo Ono menjelaskan bahwa tradisi seperti omiyamairi berakar pada keyakinan Shinto tentang kemurnian dan harmoni dengan alam.

Bayi yang baru lahir dianggap suci, namun tetap memerlukan perlindungan spiritual agar tumbuh selaras dengan lingkungan dan masyarakat. Praktik ini mulai terlembaga kuat pada periode Edo (1603–1868), ketika sistem kuil semakin terorganisasi dan ritual keluarga menjadi bagian penting dari identitas sosial.

Secara historis, angka kematian bayi yang tinggi pada masa lalu juga memengaruhi makna omiyamairi. Upacara ini menjadi simbol harapan dan doa agar anak dapat bertahan hidup dan tumbuh sehat.

Hingga kini, meskipun Jepang telah menjadi negara modern, banyak keluarga tetap melaksanakan omiyamairi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan leluhur.Omiyamairi mengajarkan bahwa setiap anak adalah amanah yang perlu dijaga dengan kasih sayang, dukungan keluarga, dan doa.

Tradisi ini juga mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar budaya di tengah arus modernisasi, karena nilai kebersamaan dan spiritualitas tetap relevan dalam membangun generasi masa depan.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular