MEDIAAKU.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 secara sementara menunjukkan hasil yang kuat dan terjaga. Paparan tersebut disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTA yang digelar di Jakarta.
Melansir laman Kemenkeu, Jumat (9/1/2026) Di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang penuh ketidakpastian sepanjang 2025, APBN dinilai mampu berperan sebagai instrumen kebijakan yang sigap dan adaptif. Pemerintah menggunakan APBN untuk merespons berbagai dinamika ekonomi sekaligus menjaga stabilitas nasional.
Dari sisi pendapatan, realisasi negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau setara 91,7 persen dari outlook semesteran sebesar Rp2.865,5 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang mencapai Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target. Angka tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun dan kepabeanan serta cukai sebesar Rp300,3 triliun yang hampir menyentuh target.
Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencatat kinerja melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun atau 104 persen dari proyeksi. Penerimaan hibah juga terealisasi lebih tinggi dari target, yakni Rp4,3 triliun.
Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook semester sebesar Rp3.527,5 triliun. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp2.602,3 triliun yang terdiri atas belanja kementerian dan lembaga serta belanja non-kementerian/lembaga. Adapun transfer ke daerah telah disalurkan sebesar Rp849 triliun.
Pemerintah terus menjalankan berbagai agenda reformasi untuk meningkatkan kualitas APBN, baik dari sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan. Kebijakan belanja dirancang agar tetap adaptif dan mendukung program prioritas yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Dengan pengelolaan tersebut, defisit APBN hingga akhir tahun dapat dijaga pada level aman sebesar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp695,1 triliun.
Menkeu menjelaskan bahwa di tengah tren perlambatan ekonomi, pemerintah perlu memberikan stimulus untuk menjaga pertumbuhan. Namun demikian, disiplin fiskal tetap dijaga dengan memastikan defisit tidak melampaui batas 3 persen dari PDB. Kebijakan ini merupakan bentuk nyata pendekatan countercyclical guna menjaga ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan global.
Ke depan, pemerintah optimistis kondisi ekonomi nasional akan semakin membaik. Dengan fondasi ekonomi yang lebih kuat, defisit pada 2026 diyakini dapat ditekan lebih rendah, sekaligus memberikan dampak pertumbuhan yang lebih luas bagi masyarakat. Pemerintah pun menargetkan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,4 persen dan berupaya mendorongnya ke level yang lebih tinggi.
APBN bersama dengan mesin pertumbuhan lainnya akan terus dioptimalkan untuk mempercepat pemulihan dan ekspansi ekonomi. Selain itu, APBN juga tetap difungsikan sebagai peredam guncangan (shock absorber) guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas perekonomian nasional.(*/Stephany)

