MEDIAAKU.COM – Banyak remaja dan anak tertarik mewarnai rambut sebagai cara berekspresi, mencoba gaya baru, atau mengikuti tren. Namun, di balik warna rambut yang tampak keren, ada sejumlah dampak potensial terhadap kesehatan terutama bila pewarna digunakan terlalu dini atau terlalu sering.
Dikutip dari Halodoc cat rambut diketahui memiliki kandungan bahan kimia yang mungkin tidak cocok atau malah bisa berbahaya, bila diaplikasikan pada kulit kepala anak yang masih lembut dan sensitif
Mengapa Pewarnaan Bisa Menyebabkan Masalah?Sebagian besar pewarna rambut memakai bahan kimia seperti Para‑phenylenediamine (PPD), amonia, atau Hidrogen peroksida (H₂O₂) agar warna melekat sempurna dan tahan lama.
Kulit kepala dan rambut pada remaja apalagi anak-anak biasanya lebih sensitif dibandingkan orang dewasa, sehingga risiko iritasi, reaksi alergi, atau kerusakan rambut menjadi lebih besar.
Mewarnai rambut sebaiknya ditunda setidaknya sampai remaja berumur agak lebih dewasa minimal memasuki usia 16 tahun. Pada usia lebih muda, kulit dan rambut bisa lebih rentan terhadap efek negatif bahan
Beberapa efek samping yang dilaporkan akibat pewarna rambut terutama pewarna permanen atau yang dilakukan terlalu sering antara lain:
-Iritasi kulit & alergi: kulit kepala bisa gatal, kemerahan, bahkan bengkak; kulit wajah atau leher bisa ikut tersentuh dan mengalami reaksi.
-Kerusakan rambut: rambut bisa menjadi kering, kasar, mudah patah, bercabang, dan terlihat kusam. Struktur rambut dapat berubah permanen jika pewarnaan dilakukan berulang dengan bahan keras.
-Gangguan pernapasan / iritasi saluran pernapasan: bahan kimia dan uap pewarna dapat menyebar ke udara, dan jika terhirup bisa memicu batuk, perih tenggorokan, atau pada orang sensitif, asma.
Potensi risiko jangka panjang: meskipun penelitian belum pasti, ada kekhawatiran bahwa paparan bahan pewarna secara terus-menerus bisa membawa risiko kesehatan dalam jangka panjang.
Jika tetap ingin mengecat rambut, pilih jenis pewarna sementara atau semi-permanen, yang warnanya lebih mudah luntur dan cenderung lebih aman.
Sebaiknya lakukan “patch test” dulu yaitu mencoba pewarna pada kulit kecil (misalnya di belakang telinga) untuk melihat apakah ada reaksi alergi sebelum seluruh rambut diwarnai.
Pewarnaan rambut bisa menjadi cara ekspresif bagi remaja mengeksplor gaya, identitas, atau keinginan tampil berbeda.
Namun, sebagai remaja, penting untuk memahami risiko sebelum memutuskan mengecat rambut. Jangan tergesa-gesa. Rambut masih berkembang, kulit dan sistem tubuh belum sekuat orang dewasa.
Menghormati tubuh sendiri dengan cara bertanggung jawab adalah bagian dari mencintai diri karena tubuh sehat akan mendukung masa depan yang lebih baik.(*/janu)

