Thursday, February 19, 2026
HomeIbu dan AnakSelalu Ingin Sempurna, Tapi Bahagia Kah? Mengulik Dunia Anak Perfeksionis

Selalu Ingin Sempurna, Tapi Bahagia Kah? Mengulik Dunia Anak Perfeksionis

MEDIAAKU.COM – Perfeksionisme adalah kecenderungan seseorang untuk menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Pada anak, sifat perfeksionis dapat muncul sejak dini dan sering kali tidak disadari oleh orang tua maupun pendidik.

Menurut Hewitt dan Flett dalam buku “Perfectionism: Theory, Research, and Treatment”, perfeksionisme bukan hanya tentang ingin menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang ketakutan berlebihan terhadap kesalahan.

Berikut beberapa ciri anak perfeksionis yang umum ditemukan.

1.Takut melakukan kesalahan

Anak perfeksionis sangat takut salah. Ia sering ragu untuk mencoba hal baru karena khawatir hasilnya tidak sempurna. Kesalahan kecil bisa membuatnya kecewa berlebihan terhadap diri sendiri.

2.Menetapkan standar yang terlalu tinggi

Anak cenderung menuntut hasil yang sempurna dalam tugas sekolah, gambar, atau kegiatan lainnya namun standar yang terlalu tinggi dapat membuat anak sulit merasa puas dengan pencapaiannya sendiri.

3.Sulit menerima kritik

Kritik sering dianggap sebagai kegagalan. Anak perfeksionis mudah tersinggung atau sedih ketika mendapat masukan, meskipun kritik tersebut bersifat membangun.

4.Sering menunda atau mengulang pekerjaan

Karena ingin hasil sempurna, anak bisa terlalu lama mengerjakan satu tugas atau mengulanginya berkali-kali. Hal ini justru dapat menghambat produktivitas dan membuat anak kelelahan.

5.Mudah cemas dan stres

Perfeksionisme sering berkaitan dengan kecemasan. Hurlock dalam “Psikologi Perkembangan” menyatakan bahwa tekanan untuk selalu berhasil dapat memicu stres emosional pada anak.

6.Mengaitkan nilai diri dengan prestasi

Anak perfeksionis sering merasa dirinya berharga hanya jika berhasil. Ketika gagal, ia merasa tidak cukup baik atau tidak membanggakan.

Meskipun perfeksionisme dapat mendorong anak untuk berprestasi, sifat ini juga memiliki sisi negatif jika tidak dikelola dengan baik. Anak perlu belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Pesan dari pembahasan ini adalah pentingnya menanamkan pemahaman bahwa usaha lebih penting daripada kesempurnaan. Orang tua dan guru perlu membantu anak menerima diri apa adanya, menghargai proses, dan memahami bahwa gagal bukan berarti tidak mampu.

Dengan demikian, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, percaya diri, dan berani mencoba tanpa takut salah.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular