Monday, January 5, 2026
HomeSejarah & BudayaSiapa Sebenarnya Penemu Baterai Pertama? Jawaban yang Mungkin Mengejutkan!

Siapa Sebenarnya Penemu Baterai Pertama? Jawaban yang Mungkin Mengejutkan!

MEDIAAKU.COM – Perkembangan baterai tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang manusia dalam memahami listrik.

Dalam “Handbook of Batteries”,oleh Linden dan Reddy menjelaskan bahwa perkembangan baterai berawal dari upaya manusia mencari cara untuk menyimpan dan memanfaatkan energi listrik secara praktis.

Sejarahnya dimulai pada akhir abad ke-18 ketika ilmuwan Italia, Luigi Galvani, menemukan bahwa kaki katak dapat bergerak ketika disentuh dua logam berbeda. Galvani menyimpulkan bahwa makhluk hidup memiliki “listrik hewan”. Temuan ini memicu perdebatan besar di kalangan ilmuwan Eropa.

Salah satu orang yang tertarik sekaligus tidak sepakat dengan Galvani adalah sahabatnya sendiri, Alessandro Volta. Volta percaya bahwa sumber listrik bukan berasal dari tubuh hewan, melainkan dari interaksi antara dua logam dan cairan elektrolit. Pada tahun 1800, Volta lalu menciptakan “Voltaic Pile”, cikal bakal baterai modern.

Susunan cakram seng dan tembaga yang dipisah kain basah larutan garam itu mampu menghasilkan arus listrik stabil, dan menjadi baterai pertama dalam sejarah. Penemuan ini melahirkan satuan “volt” yang kita gunakan hingga sekarang.

Pada tahun 1859, ilmuwan Prancis Gaston Planté memperkenalkan baterai isi ulang (lead-acid battery) pertama di dunia. Terobosan Planté sangat penting karena memungkinkan penyimpanan energi dalam jangka panjang dan dapat diisi kembali berkali-kali.

Memasuki abad ke-20, perkembangan baterai terus meningkat. Pada tahun 1899, ilmuwan Swedia Waldmar Jungner menciptakan baterai nikel-kadmium (NiCd) yang jauh lebih tangguh.

Kemudian, pada 1980-an, profesor Amerika John B. Goodenough bersama Koichi Mizushima mengembangkan katoda kobalt oksida pada tahun 1980 di Universitas Oxford. Ini adalah komponen penting yang memungkinkan baterai memiliki voltase lebih tinggi dan kepadatan energi yang lebih besar

Kemudian Akira Yoshino pada tahun 1985 mengembangkan teknologi lithium-ion, baterai ringan berkapasitas besar yang kini digunakan hampir di semua perangkat modern seperti ponsel, laptop, kamera, hingga kendaraan listrik. Atas kontribusi mereka, ketiganya mendapat Hadiah Nobel Kimia 2019.

Sejarah baterai menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak terjadi secara instan, melainkan melalui rangkaian penemuan, perdebatan, dan penyempurnaan oleh banyak ilmuwan dari generasi ke generasi.

Tanpa kerja keras para perintis seperti Volta, Daniell, Planté, hingga Goodenough, kehidupan modern yang bergantung pada perangkat elektronik portabel tidak akan mungkin terjadi.

Perkembangan baterai mengajarkan bahwa kemajuan besar sering bermula dari rasa ingin tahu yang sederhana. Ketika para ilmuwan berani mempertanyakan hal-hal kecil di sekitar mereka, dunia berubah selangkah demi selangkah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun bisa berkontribusi pada masa depan dengan terus belajar, bertanya, dan mencoba memperbaiki apa yang sudah ada. Teknologi hebat lahir dari pikiran yang tak berhenti mencari kemungkinan baru.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular