MEDIAAKU.COM – Menjadi ibu muda adalah pengalaman yang penuh kebahagiaan sekaligus ujian, terutama ketika menghadapi bayi yang sering menangis. Tangisan bayi bukan sekadar suara, melainkan bentuk komunikasi utama karena mereka belum mampu berbicara.
Namun, bagi ibu yang masih beradaptasi dengan peran barunya, tangisan yang terus-menerus dapat menimbulkan rasa lelah, cemas, bahkan merasa tidak mampu.Dalam bukunya “The Happiest Baby on the Block”, Harvey Karp menjelaskan bahwa bayi menangis bukan untuk menyulitkan orang tua, tetapi sebagai respons alami terhadap kebutuhan fisik maupun emosional.
Rasa lapar, tidak nyaman, kelelahan, atau kebutuhan akan sentuhan adalah beberapa alasan umum. Karp menekankan pentingnya respons cepat dan penuh empati karena hal itu membantu bayi merasa aman.
Sementara itu, dalam buku “The Whole-Brain Child”, Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson menegaskan bahwa hubungan emosional antara orang tua dan anak sejak dini sangat memengaruhi perkembangan otak bayi.
Ketika ibu merespons tangisan dengan tenang, lembut, dan konsisten, bayi belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman. Ini menjadi fondasi penting bagi kesehatan emosional di masa depan.Sering kali, tekanan terbesar justru datang dari ekspektasi sosial yang menganggap ibu harus selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Padahal, proses memahami bayi adalah perjalanan belajar. Tidak ada ibu yang langsung mahir sejak hari pertama. Buku “What to Expect the First Year” karya Heidi Murkoff juga menekankan bahwa kelelahan dan kebingungan adalah hal yang normal dalam tahun pertama kehidupan bayi.
Dari perspektif psikologi perkembangan, kesabaran ibu dalam menghadapi tangisan bayi membantu membangun ikatan emosional yang kuat. Sentuhan, pelukan, dan suara lembut bukan hanya menenangkan bayi, tetapi juga menenangkan ibu.
Tangisan bayi bukan tanda kegagalan ibu, melainkan bagian dari komunikasi dan pertumbuhan. Kesabaran, empati, dan kemauan untuk belajar adalah kunci dalam perjalanan menjadi orang tua.
Kita pun belajar bahwa merawat bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang memahami. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting agar ibu muda tidak merasa sendirian dalam proses ini.(*/janu)

