MEDIAAKU.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali anak yang pendiam atau jarang berbicara dianggap sebagai anak pemalu. Padahal, tidak semua anak yang terlihat pemalu mengalami hal yang sama. Ada perbedaan penting antara anak pemalu dan anak yang mengalami kecemasan sosial.
Memahami perbedaan ini sangat penting agar orang tua, guru, dan lingkungan sekitar dapat memberikan dukungan yang tepat.Anak pemalu umumnya merasa canggung atau malu saat berada di situasi sosial baru, seperti bertemu orang asing atau berbicara di depan kelas. Namun, perasaan ini biasanya bersifat sementara. Setelah anak mulai merasa nyaman dengan lingkungannya, ia dapat berinteraksi dengan baik.
Menurut Hurlock dalam “Psikologi Perkembangan”, sifat pemalu merupakan bagian normal dari perkembangan kepribadian anak, terutama pada masa kanak-kanak dan remaja. Anak pemalu tetap mampu menjalani aktivitas sosial, meskipun membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.
Berbeda dengan itu, anak dengan kecemasan sosial mengalami rasa takut yang lebih intens dan menetap terhadap situasi sosial. Ketakutan ini bukan sekadar malu, melainkan disertai kekhawatiran berlebihan akan dinilai, ditertawakan, atau dipermalukan oleh orang lain.
Dalam “buku Abnormal Psychology” karya David H. Barlow dan V. Mark Durand, kecemasan sosial dijelaskan sebagai gangguan psikologis yang dapat mengganggu fungsi sehari-hari.
Anak dengan kecemasan sosial sering menghindari berbicara di depan umum, sulit bergaul, bahkan bisa mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar, berkeringat, atau gemetar ketika berada di situasi sosial.
Perbedaan utama antara keduanya terletak pada tingkat ketakutan dan dampaknya. Anak pemalu masih dapat berfungsi secara sosial, sedangkan anak dengan kecemasan sosial merasa sangat tertekan hingga aktivitas belajar dan hubungan sosialnya terganggu.
Jika sifat pemalu umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus, kecemasan sosial memerlukan perhatian lebih, bahkan bantuan profesional seperti konseling atau terapi.Dalam hal ini penting memiliki sikap empati dan tidak mudah memberi label pada anak.
Anak yang pendiam belum tentu bermasalah, dan anak dengan kecemasan sosial bukanlah anak yang lemah. Dengan pemahaman yang baik, dukungan yang tepat, serta lingkungan yang aman dan penuh penerimaan, setiap anak dapat tumbuh sesuai dengan potensi terbaiknya.(*/janu)

