MEDIAAKU.COM – Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan audiensi dari Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta.
Melansir laman Kemenag, Rabu (8/4/2026) pertemuan tersebut membahas kesiapan pelaksanaan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 sekaligus menekankan pentingnya menjadikan Waisak sebagai momentum mempererat persaudaraan.
Audiensi ini menjadi langkah awal memperkuat koordinasi antara pemerintah dan umat Buddha agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan. Dalam pertemuan tersebut hadir pula Wakil Ketua Panitia WALUBI Karuna Murdaya, Prajna Murdaya, Bhikkhu Sangha, serta sejumlah perwakilan lainnya yang turut menyampaikan kesiapan teknis pelaksanaan.
WALUBI memaparkan rencana kegiatan Waisak yang berskala nasional dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Perayaan akan berlangsung pada 10 Mei hingga 5 Juni 2026, dengan agenda seperti karya bakti di Taman Makam Pahlawan, layanan kesehatan gratis, pengambilan Api Dharma di Mrapen, pengambilan Air Suci di Umbul Jumprit, hingga puncak acara di Candi Mendut dan Candi Borobudur yang ditutup dengan festival lampion.
Mengusung tema “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia”, perayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial melalui nilai kemanusiaan dan keharmonisan.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Candi Borobudur bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga pusat ibadah penting bagi umat Buddha di tingkat nasional maupun global. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya persiapan matang dengan melibatkan berbagai pihak.
“Borobudur bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pusat ibadah umat Buddha. Karena itu, perayaan Waisak harus kita siapkan dengan baik agar berlangsung khidmat dan memberikan makna yang mendalam,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menag menilai Waisak sebagai momen strategis untuk memperkuat nilai kebangsaan dan toleransi antarumat beragama. Ia menekankan bahwa ajaran Dharma relevan dalam membangun masyarakat yang damai dan beradab.
“Tema yang diangkat tahun ini sangat kuat. Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan harus menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa. Dari situ lahir cinta kasih yang menjadi dasar perdamaian dunia,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, panitia, dan masyarakat luas agar seluruh rangkaian kegiatan, baik keagamaan maupun sosial, dapat berjalan optimal serta memberikan manfaat yang lebih luas.
Menutup pernyataannya, Nasaruddin Umar berharap perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum refleksi bersama untuk memperkuat harmoni di tengah keberagaman Indonesia.
Ia menegaskan bahwa Waisak diharapkan mampu menjadi energi kolektif dalam menebarkan kedamaian serta menjaga kebhinekaan sebagai kekuatan bangsa.(*/Stephany)

