MEDIAAKU.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menjalin kerja sama dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Jakarta belum lama ini.
Melansir laman Kemendikdasmen, Sabtu (28/2/2026) Penandatanganan ini dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, bersama Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Mohammad Syafii.
Turut hadir Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti serta jajaran pejabat dari kedua lembaga. Kerja sama ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya dunia pendidikan, terhadap pentingnya keselamatan diri dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen Kemendikdasmen untuk menanamkan pemahaman keselamatan kepada peserta didik dan tenaga pendidik sejak dini. Salah satu wacana yang dikembangkan adalah menjadikan keterampilan Search and Rescue (SAR) sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Di sisi lain, Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan pentingnya sinergi ini mengingat kondisi geografis Indonesia yang memiliki kekayaan alam sekaligus tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia berada di peringkat atas dunia dalam potensi bencana, termasuk ancaman gempa megathrust yang diperkirakan dapat terjadi dalam rentang satu abad ke depan.
Syafii juga menyoroti amanat undang-undang yang menyebutkan bahwa masyarakat di sekitar lokasi bencana, meskipun tidak terdampak langsung, memiliki peran dalam melakukan tindakan awal sebelum tim penyelamat tiba.
Oleh sebab itu, ia mendorong agar edukasi keselamatan mulai diperkenalkan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui alat permainan edukatif yang mengajarkan konsep dasar keselamatan sebagai kebutuhan fundamental.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Abdul Mu’ti menilai bahwa gagasan Basarnas selaras dengan arah kebijakan Kemendikdasmen. Pendidikan tidak hanya difokuskan pada akademik, tetapi juga pengembangan minat dan bakat, termasuk keterampilan SAR. Menurutnya, kemampuan ini relevan untuk diintegrasikan dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah dan diselaraskan dengan program Pramuka yang saat ini bersifat wajib.
Ia menekankan bahwa anak-anak perlu dibekali pengetahuan dasar mengenai cara menyelamatkan diri dalam situasi darurat, seperti banjir, kebakaran, maupun bencana lainnya. Pemahaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi berbagai risiko.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti berharap kerja sama ini menjadi langkah awal untuk membangun sinergi berkelanjutan dalam upaya penyelamatan masyarakat, sekaligus menyiapkan generasi muda yang kelak mampu berkontribusi sebagai relawan Basarnas yang andal.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menyampaikan bahwa pihaknya telah memiliki program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program tersebut dinilai dapat dipadukan dengan inisiatif Basarnas agar implementasi edukasi keselamatan di sekolah berjalan lebih terarah dan terpadu.(*/Stephany)

