MEDIAAKU.COM – Pemerintah resmi meluncurkan Program Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 sebagai upaya strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Program ini menitikberatkan pada penguatan kemampuan teknis (hard skills) dan nonteknis (soft skills) agar selaras dengan agenda pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Melansir laman Ekon.go, Minggu (1/3/2026) Dalam konferensi pers, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa program pelatihan vokasi yang diinisiasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) ini disediakan sepenuhnya secara gratis.
Program tersebut dirancang untuk membentuk tenaga kerja yang kompeten, produktif, berdisiplin, serta memiliki etos kerja yang kuat, baik untuk memasuki dunia kerja maupun berwirausaha.
Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 akan dilaksanakan dalam tiga batch pelatihan, masing-masing menampung sekitar 20 ribu peserta, sehingga total peserta dalam satu tahun diperkirakan mencapai sekitar 70 ribu orang. Pelatihan digelar di 33 Unit Pelaksana Teknis Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (UPT BPVP) serta Satuan Pelayanan Kemnaker yang tersebar di berbagai provinsi.
Program ini juga mengusung konsep skilling, upskilling, dan reskilling dengan pendekatan link and match, sehingga materi pelatihan disesuaikan secara langsung dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Dengan pendekatan berbasis permintaan pasar kerja tersebut, lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang relevan, adaptif, dan siap bersaing.
Kesempatan mengikuti program ini terbuka bagi lulusan SMA/SMK/MA atau sederajat yang memenuhi persyaratan, antara lain berusia minimal 17 tahun, memiliki akun SiapKerja, serta lulus dalam tiga tahun terakhir. Pendaftaran dilakukan melalui portal resmi skillhub.kemnaker.go.id.
Peserta berhak memperoleh berbagai fasilitas, seperti bantuan transportasi harian sebesar Rp20 ribu, kepesertaan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), sertifikat pelatihan, sertifikat kompetensi BNSP, serta fasilitas asrama bagi peserta dari luar daerah pada pelatihan tertentu.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, jumlah lulusan SMA/SMK pada tahun ajaran 2024/2025 mencapai sekitar 3,28 juta orang. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lulusan SMA dan SMK secara kumulatif menyumbang sekitar 35 persen dari total tenaga kerja nasional. Kondisi ini memperkuat urgensi peningkatan kompetensi lulusan pendidikan menengah agar lebih siap menghadapi dunia kerja.
Beragam bidang pelatihan disediakan dalam program ini, mulai dari teknologi informasi, bisnis, pariwisata, otomotif, kelistrikan, konstruksi, pertanian modern, hingga ekonomi kreatif. Pelatihan juga mencakup bidang strategis seperti pemasaran digital, keamanan siber, kendaraan listrik, energi terbarukan, serta pelatihan prioritas nasional seperti Koperasi Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis. Seluruhnya diselenggarakan secara luring, daring, maupun hybrid dalam lebih dari 820 kelas yang mencakup 31 kejuruan.
Menko Airlangga berharap pelaksanaan program vokasi ini dapat melibatkan berbagai pihak, tidak hanya unit pelatihan Kemnaker, tetapi juga balai pelatihan milik kementerian lain, pemerintah daerah, hingga sektor swasta. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar tata kelola pelatihan nasional berjalan efektif, terintegrasi, berkelanjutan, serta terhindar dari tumpang tindih program.
Ia menambahkan, program ini berjalan seiring dengan kebijakan magang nasional dan difokuskan untuk lulusan SMA dan SMK agar jarak antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja semakin pendek. Pemerintah, kata Airlangga, akan terus mendorong penyempurnaan program ini sesuai dengan arahan Presiden demi mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.(*/Stephany)

