MEDIAAKU.COM – Suku Tengger merupakan salah satu suku asli di Indonesia yang tinggal di kawasan pegunungan Tengger, sekitar Gunung Bromo, Semeru, dan Batok, di wilayah Jawa Timur.Masyarakat Tengger dikenal sebagai kelompok yang masih menjaga tradisi leluhur secara kuat hingga saat ini.
Nama “Tengger” sering dikaitkan dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger, tokoh yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger. Dari gabungan nama Anteng dan Seger inilah muncul sebutan Tengger, yang melambangkan ketenangan dan kekuatan.
Menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo, masyarakat Tengger memiliki hubungan erat dengan kebudayaan Jawa Kuno yang berkembang pada masa Kerajaan Majapahit.Ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15, sebagian penduduknya diyakini menyingkir ke daerah pegunungan untuk mempertahankan kepercayaan dan adat istiadat lama.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Koentjaraningrat dalam bukunya “Pengantar Ilmu Antropologi” yang menjelaskan bahwa masyarakat Tengger merupakan kelompok yang relatif sedikit terpengaruh oleh budaya luar.
Kepercayaan masyarakat Tengger pada awalnya berakar pada ajaran Hindu Jawa kuno, yang memadukan unsur Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal. Hingga kini, sebagian besar masyarakat Tengger masih memeluk agama Hindu, meskipun dalam praktiknya memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Hindu di Bali.
Salah satu tradisi paling terkenal adalah upacara “Yadnya Kasada”, yaitu ritual persembahan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur mereka.Tradisi ini menunjukkan betapa erat hubungan masyarakat Tengger dengan alam.
Ahli antropologi Hildred Geertz dalam kajiannya tentang masyarakat Jawa menyebutkan bahwa komunitas seperti Tengger mampu bertahan karena kuatnya ikatan sosial, nilai kebersamaan, dan kepatuhan pada adat.Masyarakat Tengger hidup dengan prinsip rukun, jujur, dan saling membantu, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai petani pegunungan.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Tengger menunjukkan bahwa tradisi dan kemajuan dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling menghilangkan.Sikap ini menjadi contoh berharga bagi bangsa Indonesia dalam menjaga warisan budaya dan nilai luhur nenek moyang.(*/janu)

