Thursday, April 16, 2026
HomeSejarah & BudayaSatu Mangkok, Seribu Cerita: Sejarah Panjang Bubur Ayam

Satu Mangkok, Seribu Cerita: Sejarah Panjang Bubur Ayam

MEDIAAKU.COM – Bubur ayam merupakan salah satu makanan yang sangat populer di Indonesia. Hidangan ini dikenal sebagai menu sarapan yang hangat, lembut, dan mudah dicerna. Namun, di balik kesederhanaannya, bubur ayam memiliki sejarah panjang yang berakar dari budaya kuliner Tiongkok sebelum akhirnya berkembang menjadi makanan khas Nusantara.

Menurut beberapa sejarawan kuliner, bubur berasal dari hidangan Tiongkok yang disebut “congee”. Dalam bukunya “The Food of China”, sejarawan kuliner E. N. Anderson menjelaskan bahwa bubur nasi telah menjadi makanan pokok masyarakat Tiongkok selama ribuan tahun.

Bubur dibuat dengan cara memasak beras dengan air dalam waktu lama hingga menghasilkan tekstur yang lembut. Hidangan ini sering diberikan kepada orang sakit, anak-anak, maupun orang tua karena mudah dicerna.

Masuknya bubur ke Indonesia berkaitan erat dengan kedatangan pedagang dan perantau Tiongkok ke wilayah Nusantara sejak abad ke-15. Mereka membawa berbagai tradisi kuliner, termasuk bubur nasi.

Seiring waktu, masyarakat lokal mulai menyesuaikan hidangan tersebut dengan bahan dan cita rasa daerah. Dari proses inilah lahir variasi bubur ayam yang kita kenal sekarang.Dalam buku “Indonesian Food and Cookery” karya Sri Owen, dijelaskan bahwa bubur ayam di Indonesia mengalami proses akulturasi budaya.

Berbeda dengan bubur Tiongkok yang biasanya disajikan polos atau dengan sedikit lauk, bubur ayam Indonesia justru kaya akan topping. Biasanya bubur disajikan dengan suwiran ayam, cakwe, kacang kedelai goreng, daun bawang, bawang goreng, serta disiram kuah kaldu yang gurih. Beberapa daerah bahkan menambahkan kecap manis, sambal, atau kerupuk.

Setiap daerah di Indonesia juga memiliki gaya bubur ayam yang berbeda. Misalnya bubur ayam Cirebon yang terkenal dengan kuah kuningnya, bubur ayam Bandung yang cenderung ringan, kental, dan tanpa kuah cukup kecap asin/manis , serta bubur ayam Jakarta yang lengkap dengan kuah kaldu, cakwe, kerupuk, dan sate-satean.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa bubur ayam telah beradaptasi dengan budaya kuliner local.Para ahli kuliner menilai bubur ayam sebagai contoh nyata perpaduan budaya. Dari sejarah bubur ayam, kita dapat mengambil pesan bahwa perbedaan budaya tidak selalu memisahkan manusia. Justru dari pertemuan budaya itulah lahir hal-hal baru yang memperkaya kehidupan.

Bubur ayam mengajarkan bahwa keberagaman dapat menghasilkan sesuatu yang lezat, bermanfaat, dan diterima oleh semua orang. Oleh karena itu, kita seharusnya menghargai perbedaan budaya dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan untuk saling belajar dan berkembang bersama.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular