MEDIAAKU.COM – Bullying verbal menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling sering terjadi pada anak dan remaja. Meski tidak meninggalkan luka fisik, kata-kata kasar, ejekan, merendahkan, dan penghinaan dapat menimbulkan luka emosional yang bertahan lama.
Banyak ahli sepakat bahwa perilaku ini tidak muncul begitu saja; ada rangkaian faktor psikologis, sosial, dan lingkungan yang mendorong seorang anak melakukan intimidasi melalui kata-kata.
Menurut psikolog perkembangan Erik H. Erikson, dalam bukunya “Identity: Youth and Crisis”, ia menjelaskan bahwa remaja yang belum stabil secara emosional cenderung mengekspresikan kebingungan itu melalui perilaku agresif, termasuk menyerang orang lain secara verbal.
Ketika anak gagal membangun rasa percaya diri, ia bisa menggunakan ejekan sebagai cara untuk terlihat dominan.Ahli psikologi Albert Bandura melalui teorinya tentang social learning dalam buku “Social Learning Theory” menyatakan bahwa perilaku buruk, termasuk bullying, sering dipelajari melalui pengamatan.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh teriakan, hinaan, atau orang dewasa yang saling merendahkan akan menganggap hal itu wajar. Mereka meniru apa yang mereka lihat, karena bagi mereka itu adalah model perilaku yang dianggap normal.
Anak sering melakukan bullying verbal karena adanya ketidakseimbangan kekuasaan. Mereka ingin merasa lebih unggul agar tidak menjadi korban. Dorongan ini biasanya terkait dengan rendahnya empati dan kurangnya keterampilan sosial, sehingga mereka memilih cara yang salah untuk mendapatkan perhatian atau rasa aman.
Bullying verbal juga muncul ketika sekolah atau lingkungan sosial tidak memberikan batasan yang jelas.Ketika perilaku ejekan tidak ditindak, anak belajar bahwa intimidasi melalui kata-kata adalah tindakan tanpa risiko.
Lingkungan yang permisif membuat pelaku merasa bebas melakukan kekerasan verbal untuk mendapatkan status sosial, popularitas, atau sekadar hiburan.
Pada akhirnya, bullying verbal bukan sekadar masalah anak nakal. Ini adalah sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, lingkungan yang kurang suportif, atau pola komunikasi yang perlu diperbaiki.
Kata-kata memiliki kekuatan yang dapat menyembuhkan atau menyakiti. Menggunakan kata untuk merendahkan menjadikan kita bagian dari lingkaran kekerasan. Tetapi menggunakan kata untuk menghargai dan memahami dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan manusiawi bagi semua.(*/janu)

