MEDIAAKU.COM – Sejarah naskah lontar Bali merupakan bagian penting dari warisan intelektual dan budaya Nusantara. Naskah lontar adalah media tulis tradisional yang menggunakan daun pohon lontar sebagai bahan utama.
Tradisi ini telah berkembang sejak masa kerajaan Hindu-Buddha di Bali, sekitar abad ke-9 hingga ke-14, dan terus bertahan hingga masa kini sebagai sarana penyimpanan ilmu pengetahuan, agama, hukum adat, serta sastra.
Naskah ini bukan sekadar dokumen, tetapi juga cerminan cara berpikir masyarakat Bali yang religius dan filosofis. Isi naskah ini mencakup berbagai bidang, seperti pengobatan tradisional (usada), ajaran agama Hindu, hingga cerita epik seperti Ramayana dan Mahabharata versi lokal.Hal ini menunjukkan bahwa lontar berfungsi sebagai pusat pendidikan pada zamannya.
Menurut pendapat C.C. Berg yang meneliti naskah Nusantara. Dalam bukunya “Ancient Javanese Literature”, ia menjelaskan bahwa tradisi tulis di Bali memiliki kesinambungan kuat dengan Jawa Kuno, terutama setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Banyak pendeta dan sastrawan bermigrasi ke Bali dan membawa tradisi penulisan lontar, sehingga Bali menjadi pusat pelestarian budaya tersebut.
Proses pembuatan lontar cukup rumit. Daun lontar dipilih, direbus, dikeringkan, lalu dipotong dan dihaluskan. Tulisan diukir menggunakan pisau kecil (pengrupak), kemudian diolesi tinta alami agar huruf terlihat jelas.Teknik ini menunjukkan tingginya keterampilan serta ketelitian para penulis zaman dahulu.
Dalam buku Kamus Jawa Kuno-Indonesia, P.J. Zoetmulder juga menekankan bahwa naskah lontar adalah sumber utama untuk memahami bahasa dan sastra kuno di Indonesia. Tanpa lontar, banyak pengetahuan masa lampau akan hilang.
Saat ini, pelestarian naskah lontar menjadi tantangan tersendiri karena faktor usia, iklim, dan kurangnya minat generasi muda. Namun berbagai upaya digitalisasi dan edukasi terus dilakukan agar warisan ini tetap hidup.
Naskah lontar Bali bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga jembatan pengetahuan antara masa lalu dan masa kini. Menjaganya berarti menghargai identitas budaya sekaligus mewariskan kebijaksanaan leluhur kepada generasi mendatang.(*/janu)

