MEDIAAKU COM – Pernahkah kita melihat kucing menekan-nekan selimut, bantal, atau bahkan pangkuan pemiliknya dengan kedua kaki depan secara bergantian? Perilaku tersebut disebut “kneading”, yang sering dijuluki “membuat biskuit” karena gerakannya menyerupai orang yang sedang menguleni adonan.
Bagi manusia, perilaku ini terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, bagi kucing, kneading merupakan perilaku alami yang memiliki hubungan erat dengan masa awal kehidupannya.
Menurut dokter hewan Susan Krebsbach, salah satu penjelasan yang paling banyak diterima adalah bahwa kneading merupakan perilaku yang berasal dari masa menyusui. Anak kucing menekan-nekan perut induknya untuk membantu merangsang keluarnya susu. Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa karena gerakan itu pernah dikaitkan dengan rasa aman, kenyang, dan kenyamanan.
Ahli perilaku hewan John Bradshaw juga banyak membahas perilaku kucing dalam bukunya “Cat Sense: How the New Feline Science Can Make You a Better Friend to Your Pet”. Buku yang diterbitkan pada 2013 tersebut menjelaskan pentingnya memahami perilaku kucing berdasarkan sifat alami dan sejarah evolusinya.
Bradshaw menekankan bahwa kucing masih membawa banyak karakter bawaan dari leluhurnya sehingga perilaku yang tampak aneh bagi manusia sebenarnya dapat mempunyai fungsi tertentu.Kneading pada kucing dewasa biasanya muncul ketika mereka merasa nyaman. Kucing dapat melakukannya sebelum tidur, ketika sedang dibelai, atau saat berada di atas permukaan yang lembut.
Gerakan ini juga diduga membantu kucing melakukan peregangan dan menyiapkan tempat beristirahat. Selain itu, bantalan kaki kucing memiliki kelenjar aroma sehingga kneading dapat membantu meninggalkan aroma pada benda atau tempat tertentu.
Menariknya, tidak semua kucing melakukan kneading. Ada kucing yang sangat sering melakukannya, sementara kucing lain hampir tidak pernah. Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya masalah. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku secara tiba-tiba, terutama jika kneading menjadi berlebihan dan disertai tanda-tanda stres, sakit, atau perubahan perilaku lainnya.
Setiap makhluk memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan rasa nyaman dan aman. Kita tidak seharusnya buru-buru menilai perilaku hewan hanya berdasarkan sudut pandang manusia. Dengan memperhatikan dan memahami bahasa tubuhnya, kita belajar menjadi lebih sabar, peka, dan penuh kasih terhadap makhluk hidup di sekitar kita.(*/janu)

