Monday, January 19, 2026
HomeIbu dan AnakSaat Rumah Tak Lagi Aman: Apa Dampak Konflik Orang Tua bagi Anak?

Saat Rumah Tak Lagi Aman: Apa Dampak Konflik Orang Tua bagi Anak?

MEDIAAKU.COM – Konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar dan hampir tidak bisa dihindari.Perbedaan pendapat, tekanan ekonomi, kelelahan, atau masalah komunikasi sering menjadi pemicu pertengkaran antara suami dan istri. Namun, konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak besar pada anak, terutama anak yang memiliki kecenderungan mengalami kecemasan.

Anak sering kali belum mampu memahami masalah orang tua, tetapi sangat peka terhadap suasana emosional di rumah.Menurut Hurlock dalam “Psikologi Perkembangan”, anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tempat pertama mereka belajar tentang rasa aman dan kepercayaan.

Ketika konflik orang tua terjadi di hadapan anak, anak dapat merasa takut, cemas, bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas pertengkaran tersebut. Kondisi ini dapat memicu kecemasan berlebih, gangguan emosi, dan rasa tidak aman yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, penting bagi suami dan istri untuk menyelesaikan konflik tanpa melibatkan anak. Konflik sebaiknya dibicarakan secara pribadi, dalam suasana tenang, dan dengan komunikasi yang saling menghargai.

Anak tidak perlu mengetahui detail masalah orang tua karena hal tersebut berada di luar kapasitas emosional mereka. Menurut Gottman dalam bukunya “The Seven Principles for Making Marriage Work”, cara pasangan mengelola konflik jauh lebih penting daripada seberapa sering konflik itu terjadi.

Konflik yang diselesaikan dengan dewasa justru dapat memperkuat hubungan.Selain itu, orang tua perlu menjaga kestabilan emosi di depan anak. Nada suara yang keras, kata-kata kasar, atau sikap saling menyalahkan dapat membuat anak merasa tidak aman.

Anak yang mengalami kecemasan membutuhkan lingkungan yang stabil dan penuh dukungan. Ketika konflik selesai, orang tua juga perlu menunjukkan kepada anak bahwa hubungan mereka tetap baik, misalnya dengan berinteraksi secara hangat dan penuh kasih.

Jika konflik terasa sulit diselesaikan, mencari bantuan pihak ketiga seperti konselor pernikahan adalah langkah yang bijak. Hal ini lebih sehat dibandingkan menjadikan anak sebagai tempat curhat atau saksi pertengkaran. Anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang melindungi kesehatan mentalnya.

Orang tua tidak hanya bertanggung jawab pada hubungan mereka sendiri, tetapi juga pada kondisi emosional anak. Menyelesaikan konflik dengan dewasa dan bijaksana adalah bentuk kasih sayang yang nyata.

Dengan menjaga anak tetap di luar konflik, orang tua telah membantu anak tumbuh dengan rasa aman, tenang, dan percaya pada keluarga sebagai tempat berlindung.(*/janu)

RELATED ARTICLES

Terpopular