MEDIAAKU.COM – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, memimpin rapat pembahasan pemetaan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan dan pengelolaan talenta di Gedung E Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Pertemuan ini menitikberatkan pada perumusan sistem pemetaan talenta seni yang lebih terukur, objektif, dan dapat dijadikan pijakan dalam penyusunan kebijakan pengembangan kebudayaan ke depan.
Melansir dari laman Kemenbud, Minggu (11/1/2026) Dalam arahannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa pemetaan SDM kebudayaan harus dilakukan secara menyeluruh dan berbasis data.
Pendekatan ini dinilai penting agar pengembangan talenta tidak lagi bergantung pada asumsi, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dan terencana.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan mendengarkan paparan hasil pemetaan talenta seni yang dilakukan ESQ Group di tiga sekolah percontohan. Founder ESQ Group, Ary Ginanjar, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dan dilaksanakan melalui pengisian Talent DNA oleh siswa SMA Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, serta SMAN 31 Jakarta.
Menurut Ary Ginanjar, pemetaan ini bertujuan membantu siswa mengenali minat, bakat, dan potensi seni yang dimiliki. Dari hasil tersebut, dilakukan proses identifikasi potensi seni yang paling menonjol sebagai dasar pembinaan lanjutan.
Ia menyebutkan bahwa pemetaan mencakup enam bidang seni, meliputi seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, hingga seni media seperti film dan animasi.
Pendekatan Talent DNA juga melihat pola motivasi dan cara berinteraksi setiap individu. Perbedaan karakter tersebut, kata Ary, dapat menunjukkan kecenderungan potensi seseorang, baik di bidang seni maupun bidang lain seperti sains, riset, dan matematika.
Hasil pemetaan selanjutnya dipaparkan oleh Vice President ESQ Group, Dwitya Agustina. Dari 870 siswa yang terlibat, potensi seni ditemukan relatif merata di berbagai bidang, dengan karakter keunggulan yang berbeda di tiap sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pola pembinaan tidak dapat disamaratakan dan harus disusun berdasarkan data yang akurat.
Dwitya juga menekankan peran strategis guru seni dalam mengenali dan mengembangkan potensi murid. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar siswa memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik dan auditori, sehingga proses pembelajaran seni sebaiknya lebih menekankan praktik langsung dan simulasi.
Menanggapi hasil tersebut, Menteri Kebudayaan menegaskan pentingnya menempatkan seni sejajar dengan bidang lain dalam pembangunan talenta nasional. Ia menyebutkan bahwa konsep STEM ke depan dapat diperluas menjadi STEAM dengan memasukkan unsur seni sebagai bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia.
Selain itu, Menteri juga menyoroti perlunya pengakuan terhadap kompetensi non-akademik. Menurutnya, banyak maestro dan pelaku budaya yang memiliki keahlian tinggi berkat pengalaman panjang, meskipun tidak melalui jalur pendidikan formal. Kompetensi semacam ini, kata dia, layak mendapat apresiasi dan pengakuan negara.
Menutup pertemuan, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa pemetaan talenta berbasis Talent DNA memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara nasional. Jika diterapkan lebih luas, program ini dinilai mampu mengungkap potensi terpendam siswa di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui upaya ini, Kementerian Kebudayaan berkomitmen membangun sistem manajemen talenta kebudayaan yang berbasis data, berorientasi pada potensi, dan mendukung pembinaan seni yang berkelanjutan serta relevan dengan tantangan zaman.(*/Stephany)

